BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen
Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja

Kita mau kemana dulu dengan ekonomi  digital?  Apakah ke e-commerce, P to P, atau bentuk lain. Namun hampir semua perusahaan digital masih bakar uang, bahkan gojek saja masih bakar uang. Barangkali karena persaingannya cukup besar.

Ekonomi digital merupakan bisnis baru yang menarik sehingga banyak sekali yang mencoba masuk ke dalamnya, tetapi tidak banyak yang sukses. Yang menjadi unicorn masih terbatas. Dalam bisnis ini permodalan yang kuat sangat diperlukan, tidak sekadar beraktivitas saja.

Banyak anak-anak muda yang kreatif tetapi kalau tidak ada yang memberikan modal maka akan berat untuk bertahan hidup. Sejauh ini belum banyak perusahaan digital yang mendapatkan untung. Umumnya mereka masih bakar uang. Jika kondisinya seperti ini apakah bisa diharapkan ekonomi digital ke depannya akan menjadi tulang punggung ekonomi? Kondisinya masih berat.

Kecuali sifat bisnisnya individual seperti dilakukan oleh IKEA yang memasarkan produknya di Instagram dengan biaya yang tidak terlalu besar. Hal ini bisa dikembangkan sebagai bagian dari promosi UKM, tentu dengan skala ekonomi yang tidak terlalu besar, omzetnya tidak akan terlalu besar, karena usaha rumah tangga.

Ekonomi digital belum menjadi bubble saat ini karena tidak membuat harga naik tinggi, berlebihan. Namun dari sisi kemampuan untuk bertahan hidup harus menjadi perhatian. Transaksinya masih kecil dan belum tentu bisa hidup lama.

E-commerce besar seperti Tokopedi,  Bukalapak dan lain-lain masih membutuhkan investor.  Bisnis ini membutuhkan modal besar, tidak bisa apa adanya.

Ekonomi  digital lebih baik untuk melengkapi  sektor ekonomi yang sudah ada, komplemen, tidak  menjadi tujuan utama. Tujuan utamanya tetap usaha skala besar seperti membuat pabrik dan ada output yang dihasilkan.

E-commerce bagus juga karena banyak UKM menempatkan barangnya di situ. Fungsinya seperti mal, mal online, tanpa perlu gedung. Konsepnya melengkapi saja. Pemerintah mempersilakan e-commerce berkembang karena ikut menambah kegiatan ekonomi.

Namun pemerintah tidak perlu memberikan insentif karena e-commerce merupakan kegiatan bisnis biasa yang sifatnya tidak harus dilindungi. Cukup diperlakukan secara sama dengan bisnis yang lain sebagaimana mestinya.

Ekonomi digital memang bisnis baru yang menarik tetapi serapan terhadap tenaga kerjanya bagaimana?  Dibandingkan mal yang menyerap banyak tenaga kerja, bisnis online tidak membuka banyak lapangan kerja. Jika mau memberikan insentif sebaiknya ditujukan ke mal. Ini bentuk keberpihakan. (msw)

SHARE ON
close
alternative title

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Pelantikan Presiden, Stasiun Palmerah – Tanah Abang Tak Layani Penumpang Rute Rangkasbitung             Prabowo-Sandi & Rombongan Akan Hadiri Pelantikan Jokowi             PDIP: Tiga Kepala Daerah di Jatim Masuk Bursa Menteri             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)