BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Edgar Ekaputra
Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI
Melihat Psikologi Manusia, Tidak Semua Bisa Didigitalisasi

Secara psikologi masyarakat dunia tidak siap menghadapi pandemi COVID-19 (virus corona). Ada dua video yang menunjukkan masyarakat di Amerika Serikat-pun banyak yang tidak siap menghadapi COVID-19. Salah satu video menunjukkan orang yang diberikan masker secara gratis, namun menolak. Video yang lain menunjukkan orang yang diingatkan malah marah. 

Kesehatan vs ekonomi, itulah kondisi yang sekarang tengah terjadi. Semua negara berada pada situasi yang dilematis, hendak memilih kesehatan atau ekonomi. Kesehatan turun, ekonomi naik. Kesehatan baik, ekonomi turun. Ini jelas bukan pilihan yang mudah.

Jika dikatakan digitalisasi ekonomi sebagai pilihan dalam mempertahankan kesehatan dan kestabilan ekonomi, tidak semua aktivitas ekonomi bisa didigitalisasikan. Pengiriman barang, makanan, pembangunan jalan, rumah, tidak bisa menggunakan internet, harus dilakukan dan berbentuk fisik. Apa iya semua tenaga kerja digantikan dengan robot? Kan tidak seperti itu.

Banyak jasa layanan yang bisa diganti dengan online, tetapi manusiakan binatang sosial. Kelima indera butuh asupan. Internet/digital bisa memenuhi indera penglihatan dan pendengaran, untuk rasa, taste, smell belum bisa diganti dengan digital.

Bisa dibilang, psikologi manusia belum siap menerima kondisi new normal dengan protokol jaga jarak dan sejenisnya. Sebenarnya musuh manusia nomor satu adalah rasa kesepian dan ketakutan. Itulah yang menjadi tantangan terbesar bagi psikologi manusia di tengah pandemi COVID-19.

Sementara itu, dalam krisis selalu akan ada yang diuntungkan dan mendadak ada pihak-pihak yang kaya baru, contoh: industri Kesehatan dan industri digital. Pemilik aplikasi zoom, kaya mendadak. Tadinya jalannya terseok-seok, sekarang berjaya.

Pembuat masker, ventilator, apalagi yang nanti penemu vaksin, wah kaya mendadak pasti. Demikian juga, pembuat disinfektan, juga pasti penjualan meledak. Kalau 260 juta penduduk harus pakai masker, hitung saja 260 juta dikali 10.000 bukannya itu industri 2.600.000.000.000. Itu baru 1 masker/orang, kalau dia punya tiga masker, ya 8.400.000.000.000.

Selain itu, bisnis rapid test juga pasti melonjak. Satu rapid test Rp150.000 lah kalau dikali 260 juta, nah gede  banget. Kalau rapid test hanya berlaku empat hari, jika orang-orang harus berpergian ke luar kota dan mandatory harus punya surat bersih melalui rapid test, nah industri berapa besar tuh?

Jikalau semua hotel, toko, pabrik, mall, pasar, kantor harus memenuhi kebersihan new normal, nah hitung industri berapa besar tuh? Apakah negara bisa mengambil peran, rasanya sulit ya. Buktinya negara tidak bisa/mampu memenuhi semua kebutuhan masker, apalagi lain-lainnya.

Orang yang bisa memberi solusi Kesehatan dan menghilangkan ketakutan masyarakat, bisa kaya atau popular mendadak.

SHARE ON
close
alternative title

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Eks Sekretaris MA Nurhadi Hadapi Putusan Praperadilan             Partai Gerindra Umumkan Riza Patria Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta             Jaksa Agung Sebut Tragedi Semanggi Bukan Pelanggaran HAM             Vaksin Anti Virus COVID-19 Ditemukan, Tumbuhkan Rasa Optimis Pemulihan Ekonomi             Tidak Ada Oposisi atau Koalisi; Bersatu Hadapi COVID-19             Prasyarat Transformasi UMKM             Ikhtiar Kebangsaan Dalam Membangun Digitalisasi Ekonomi             Urgensi Penyediaan Infrastruktur Digitalisasi Ekonomi Desa