BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Mardani Ali Sera, Dr., M. Eng.
Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
Tidak Ada Oposisi atau Koalisi; Bersatu Hadapi COVID-19

Pertama kita harus pahami, COVID-19 ini spesial. Dikarenakan tingkat penularannya yang sangat tinggi, dari human to human transfer (menular dari manusia ke manusia). Ini merupakan hal yang pertama kali terjadi dalam sejarah. Biasanya kan kalau, virus ebola dari monyet dan malaria dari nyamuk, virus COVID-19 ini dari manusia ke manusia.

Kedua, indikasinya COVID-19 menular dari droplet ke udara, dari tetesan menjadi semacam udara. Oleh karena itu, sekarang ini penekanan atau instruksi untuk masyarakat menggunakan masker tinggi. Selanjutnya ketiga, yang saya pahami setidaknya ada tiga strain atau tiga jenis dari COVID-19 itu. Ada jenis dari China yang berbeda dengan jenis Amerika, juga berbeda dengan jenis di Eropa. Mungkin kalau kita lihat lagi perkembangannya sekarang ini, strain-nya sudah bertambah menjadi enam, dikarenakan COVID-19 ini mutasinya termasuk yang cepat. 

Dengan ketiga pertimbangan ini, saya justru mendukung strategi pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19. Sejak awal saya sudah mengatakan, kalau menghadapi COVID-19 ini, tidak boleh ada oposisi dan koalisi, yang paling penting bagaimana vaksin anti virusnya ditemukan dulu, kalau tidak repot semua. Mau koalisi ataupun oposisi, bisa mati kena COVID-19. 

Nah terkait dengan vaksin antivirus ini, yang saya tahu pemerintah memiliki tiga strategi. Satu tentu membangun kemandirian, dengan memberikan dukungan kepada para ahli dan pakar dalam negeri, yang dipimpin oleh Lembaga Eijkman. Universitas Airlangga, Universitas Padjajaran, juga UI semua terlibat dalam konsorsium. Ini sudah mulai jalan, dan menurut saya ini merupakan Langkah yang paling bagus, karena strain yang digunakan strain Indonesia. Artinya menggunakan virus Indonesia, bukan virus dari China, Amerika atau Eropa. Nah kita juga belum tahu nih, bisa jadi jenis virus di Indonesia beda. Negara kita ini kan iklimnya tropis dengan tingkat kelembapan yang tinggi.

Selanjutnya kedua, pemerintah juga membangun kerjasama dengan Inggris dan Eropa. Kalau tidak salah di dalam satu lembaga yang disebut Center for EpidemicPreparedness Innovations (CEPI). Itu merupakan suatu lembaga yang konsorsiumnya terbuka, ada dari seluruh dunia bertujuan untuk menemukan anti virus COVID-19. Di dalamnya ada juga Norwegia, Inggris, dan Harvard University yang ikut bekerjasama.

Strategi yang ketiga, uji klinis yang dilakukan dengan perusahan asal China Sinovac Biotech Ltd.  Tidak bisa dipungkiri China  merupakan negara yang paling terdepan melakukan uji coba antivirus COVID-19. Yang saya ketahui, dari 17 calon vaksin yang diuji coba atau uji klinis, 10 di antaranya dari China, Itu sudah diuji coba tahap tiga. Khan ada tiga tahapan uji coba: tahap satu (1), diuji coba ke hewan; tahap dua (2), dengan jumlah terbatas dalam kurun waktu tiga bulan; dan tahap ketiga (3) dengan jumlah yang lebih besar dalam kurun waktu enam bulan. Oleh karena itu, kita menerima kerjasama uji klinis pengembangan calon vaksin antivirus COVID-19.

Dalam pertemuan dengan Ibu Menteri Luar Negeri, saya mewakili bagian Kerjasama Antara Lembaga, menurut keterangan dari Ibu Menteri China terbuka untuk kerjasama dan pengembangan antivirus COVID-19. Berbeda dengan Amerika Serikat yang tertutup. Kita sudah  mau mendapatkan remdesivir, perusahan yang memproduksi sudah siap, tetapi oleh Trump ditutup. Remdesivir inikan yang buat MERS, tapi dia juga berfungsi untuk meningkatkan imunitas. 

Jadi dengan tiga strategi ini, saya kira sudah tepat. Saya setuju, kita tidak boleh hanya bergantung pada Lembaga Eijkman. Karena ketiga strategi kerjasama itu saja belum tentu berhasil, bisa gagal tiga-tiganya. Namun bisa juga ada yang berhasil salah satu, atau ketiga-tiganya berhasil atau sukses. Lebih baik tiga ketimbang satu. 

Lebih lagi, setelah saya cek dan mendapatkan informasi lisan dari Ibu Menteri, kerjasama dengan China maupun Sinovac Biotech Ltd, Ibu Menlu kita sudah lihat term of condition yang baik, yang tidak akan membuat kita didikte. Ini karena semuanya kalau sudah dapat, baik dengan CEPI, dengan Sinovac Biotech Ltd, apalagi dengan lembaga Eiijkman, semua vaksin antivirus COVID-19 itu akan diproduksi oleh Bio Farma. 

Bio Farma itu punya kemampuan produksi 250 juta per setahun. Itu kalau full capacity ya, tapi kalau full capacity obat-obatan yang lain kan harus diproduksi juga oleh Bio Farma. Nah mungkin 80 persen dari total kapasitas. Selanjutnya, mungkin akan dilist pabrik obat lain, yang bisa disertifikasi atau standardisasi untuk menghasilkan antivirus ini.
 
Jikalau kemudian ada kekuatiran, saya rasa masih dalam batas kewajaran, dan hampir sama sebetulnya. Sebagian masyarakat menolak rapid test, karena dikuatirkan justru itu menginjeksi virus corona ke kita. Bahkan di beberapa daerah,  masyarakat pada lari kalau mau rapid test. Padahal tidak seperti itu, kan alat-alat rapid test masih disegel sebelum digunakan, dan tidak ada proses memasukan apa pun ke dalam tubuh. Hanya diambil darahnya sedikit saja, untuk ditaruh ke media yang digunakan melakukan pengecekan. 

Ada juga nuansa bahwa antivirus dari China ini adalah senjata biologis, ya kita tidak senaif itu. Kita sudah terlibat dengan sinovac bukan tahap tiga(3) ini saja, di tahap dua (2) kita sudah terlibat. Jadi ada tim dari kita yang memverivikasi bahwa itu adalah antivrus yang aman. Tentu jangan juga kita lengah ya, siapa penemu virus, bisa jadi dia akan menguasai dunia, kita harus tetap waspada karena itu. 

Selain itu saya dapat informasi dari Ibu Menteri Luar Negari (saya rujukannya ketemu Ibu Menteri), Beliau mengatakan, kami  di Kementerian Luar Negeri punya gugus tugas khusus. Yaitu, satu yang menyerahkan bantuan untuk seluruh warga Indonesia di luar negeri. Saya pernah webinar dengan mahasiswa pelajar Indonesia di Sudan dan Dubes Indonesia di sana, tim khusus sembako telah melakukan tugas dengan bagus sekali. 

Nah. dikarenakan di luar negeri tidak ada keluarga, keluarganya ya Kedubes atau Komjen Republik Indonesia, dan itu dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri, makanya buat saya bagus sekali. Kedua, itu bagian tugas khusus untuk antivirus. Di dalam masa pandemi ini, Kemeneterian Luar Negeri, menurut saya di antara kementerian yang bertranformasi secara baik untuk memenangkan pertarungan melawan COVID-19.

Jadi saya ingin garus bawahi, untuk melawan COVID-19, tidak ada koalisi atau tidak ada oposisi, semuanya harus bersatu, dengan saintifik, data bukti, serta akal sehat.
 

SHARE ON
close
alternative title

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

Sudahi Dagelan Politik Tidak Lucu Ini!

0 OPINI | 21 September 2020

Cadangan Benih di Kutub Utara

0 OPINI | 19 September 2020

Pemilu, Pilkada dan Reformasi Topeng

0 OPINI | 18 September 2020

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Eks Sekretaris MA Nurhadi Hadapi Putusan Praperadilan             Partai Gerindra Umumkan Riza Patria Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta             Jaksa Agung Sebut Tragedi Semanggi Bukan Pelanggaran HAM             Vaksin Anti Virus COVID-19 Ditemukan, Tumbuhkan Rasa Optimis Pemulihan Ekonomi             Tidak Ada Oposisi atau Koalisi; Bersatu Hadapi COVID-19             Prasyarat Transformasi UMKM             Ikhtiar Kebangsaan Dalam Membangun Digitalisasi Ekonomi             Urgensi Penyediaan Infrastruktur Digitalisasi Ekonomi Desa