Cadangan Benih di Kutub Utara
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka

Ilustrasi Muid Watyutink.com

19 September 2020 10:00

Watyutink.com - Benih tanaman adalah bagian yang sangat esensial dalam kehidupan manusia sehari-hari, karena merupakan potensi genetik yang dikembangkan sebagai sumber sandang, pangan, papan, obat-obatan, energi dan keperluan lainnya.

Tanaman, menurut Organisai Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyumbang lebih dari 80 persen makanan dan nutrisi manusia melalui 30.000 spesies tumbuhan yang dapat dimakan. Dari jumlah tersebut, 30 jenis tanaman merupakan bahan pangan masyarakat, sementara lima tanaman serealia (beras, gandum, jagung, millet, dan sorgum) menyediakan 60 persen asupan energi untuk penduduk dunia. Dengan demikian, sangat jelas bahwa ketahanan pangan sangat tergantung pada ketahanan benih.
 
Sayangnya, satu dari lima spesies tumbuhan di bumi ini diperkirakan terancam punah, baik karena karena kerusakan hutan, krisis iklim, konflik dan perubahan tata guna lahan produktif menjadi perkotaan. Padahal, peningkatan produksi pangan sebesar 60 persen harus dicapai pada tahun 2050 karena jumlah penduduk dunia akan mencapai lebih dari 9 miliar orang.

Dengan ancaman kepunahan, maka bank benih, yang mengumpulkan benih dan mengawetkannya secara ex situ - di luar habitat aslinya, menjadi sarana yang ekonomis dan efektif untuk melestarikan tanaman pangan bagi masa depan.

FAO telah menetapkan standar internasional untuk untuk konservasi dan pemanfaatan sumber daya genetik tanaman secara berkelanjutan melalui “The Genebank Standards for Plant Genetic Resources for Food and Agriculture” yang mengatur konservasi ex situ di bank benih, bank gen lapangan, dalam tabung, maupun dengan pembekuan.

Setidaknya ada 1750 bank gen di seluruh dunia yang memiliki 7,5 juta sumber daya genetik tanaman. Sebagai contoh, sumber daya genetik pertanian yang disimpan di Bank Gen Pertanian di Bogor, sampai dengan September 2020, meliputi 5077 serealia, 3137 aneka kacang, 2431 aneka ubi, dan 1416 mikroba pertanian.

Namun, berbagai kondisi yang mengancam tanaman, seperti perang dan perubahan iklim, juga menimbulkan risiko untuk bank gen, sehingga koleksi benih perlu diamankan dan disimpan di lebih dari satu tempat.

Svalbard Global Seed Vault, kubah benih yang terletak di kepulauan milik  Norwegia, 1000 km sebelah Selatan kutub utara, adalah fasilitas cadangan terbesar untuk keanekaragaman tanaman dunia. Di sini, duplikat benih dari berbagai bank gen seluruh dunia disimpan untuk jangka panjang guna mengamankan pasokan pangan.

NordGen, bank gen Negara-negara Nordik, bertanggung jawab untuk mengelola kubah benih, bekerjasama  dengan Kementerian Pangan dan Pertanian Norwegia serta organisasi internasional Crop Trust.

Tempat penyimpanan benih yang dibuka tahun 2008 itu berada 100 meter di dalam gunung, di bawah lapisan batuan dengan ketebalan antara 40 dan 60 meter. Massa gunung memiliki lapisan tanah beku, dengan suhu stabil antara minus 3 dan 4 derajat Celsius, sedangkan area penyimpanan benih memiliki sistem pendingin tambahan, hingga minus 18 derajat Celsius.

Harapannya, tempat kokoh tersebut dapat melindungi benih dari berbagai bencana alam, maupun malapetaka akibat ulah manusia. Namun alam ternyata berkehendak lain, krisis iklim menyebabkan lapisan beku di daerah itu mencair sampai ke pintu kubah. Sehingga Pemerintah Norwegia mengeluarkan biaya tambahan untuk melindungi kubah benih dan sistem pendinginnya.

Saat ini Svalbard Global Seed Fault menyimpan sekitar satu juta sampel benih, meliputi 6000 jenis tanaman, yang dikirim oleh berbagai bank gen di seluruh dunia. Sedangkan kapasitas penyimpanan dapat mencapai 2,5 miliar benih dari 4,5 juta jenis tanaman pangan.

Kepemilikan benih tetap berada pada bank gen yang menyimpannya dan hanya lembaga penyimpanlah yang diizinkan untuk menarik benihnya.

Di antara benih yang tersimpan di Svalbard Global Seed Fault, pada catatan Crop Trust, ada 13.293 sampel yang berasal dari Indonesia, dan 1050 sampel yang disimpan oleh bank gen Indonesia.

SHARE ON

search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia