Ekonomi Negara Tetangga Berlari, RI Gigit Jari
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka

Ilustrasi muid/watyutink.com

23 April 2021 17:45

Watyutink.com – Program pemulihan ekonomi nasional (PEN) sudah menghabiskan dana ratusan triliun dalam satu tahun terakhir untuk membuat perekonomian siuman setelah serangan pandemi Covid-19, namun hasilnya belum juga tampak.

Dalam tiga bulan pertama tahun ini pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih minus di kisaran 1-2 persen. Dengan perkiraan ini bahkan program pemulihan ekonomi nasional belum mampu unttuk menahan kemorosotan ekonomi dengan mempertahankan angka pertumbuhan pada nol persen.

Ada beberapa alasan mengapa pada kuartal I 2021 perekonomian masih tumbuh negative. Pertama, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 sebagai pembandingnya masih positif lantaran Covid-19 baru muncul pada Maret 2020. Perbedaannya menjadi sangat signifikan dimana saat itu belum terjadi resesi seperti saat ini.

Kedua, pemulihan ekonomi belum cukup signifikan di awal tahun. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi rendah pada kuartal I 2021. Ini merupakan sinyal bahwa daya beli masyarakat masih rendah. Inflasi indeks harga konsumen (IHK) Maret 2021 turun menjadi 1,37 persen dari bulan sebelumnya 1,37 persen. Kalau daya beli belum meningkat, ekonomi secara umum belum pulih.

Ditambah lagi indeks keyakinan konsumen (IKK) dan indeks penjualan riil yang masih berada di bawah 90. Indikator ini menunjukkan sektor riil belum bergerak secara normal, masih tertatih-tatih jalannya.

Alasan lain mengapa pertumbuhan ekonomi masih minus, permintaan kredit konsumsi, investasi, dan modal kerja masih rendah pada Februari 2021. Ini merupakan cermin belum belum bergeraknya sektor usaha dan konsumsi.

Kalau diselusuri akar dari semua masalah itu adalah karena adanya pandemi Covid-19. Tentu tidak ada yang menyangkal bahwa virus corona inilah biang keladi dari kemerosotan ekonomi banyak negara dan menjadi fenomena global dimana pertumbuhan ekonomi dunia ikut terpangkas.

Namun sejumlah negara menunjukkan keperkasaannya melawan pandemi Covid-19. Sebut saja China sebagai negara sumber pertama virus tersebut.

Ekonomi China memang turun tajam pada kuartal pertama 2020 menyusul merebaknya virus  Corona pada akhir tahun sebelumnya, namun berangsur-angsur pulih di kuartal II dengan pertumbuhan 3,2 persen, disusul kuartal III naik 4,9 persen, dan kuartal IV naik lagi 6,1 persen sehingga total  ekonomi China tumbuh 2,3 persen tahun lalu. Saat ini, kuartal I 2021 sudah mencapai 18,3 persen. Wow!

Laporan Biro Statistik Nasional negara tersebut menyebutkan angka ini menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang tajam setelah China di hantam pandemi Covid-19 sejak akhir 2019 lalu.

Sekalipun tumbuh fantastis selama Januari-Maret 2021, angka tersebut masih sedikit di bawah ekspetasi analis yang dihimpun oleh Reuters yang memperkirakan ekonomi negara ini bisa tumbuh 19 persen.

Penyebabnya adalah kinerja produksi industri tumbuh cukup lambat, meski penjualan ritel naik tinggi. Penjualan ritel negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu tumbuh 34,2 persen pada Maret 2021, melampaui ekspetasi pasar yang memproyeksi tumbuh 28 persen. Produksi industri juga tumbuh sebesar 14,1 persen, namun angka ini meleset dari proyeksi pasar yang memperkirakan tumbuh 17,2 persen.

Di luar China, ada Vietnam yang ekonominya tumbuh 4,48 persen pada periode yang sama 2021. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,68 persen. Penggerak pertumbuhan ekonomi negara tersebut adalah ekspor.

Pangsa pasar utama ekspor Vietnam untuk komputer jinjing dan smartphone adalah AS, mencapai 30 persen dari total ekspor negara itu senilai 21,2 miliar dolar AS atau setara Rp307,4 triliun dengan kurs Rp14.500 per dolar AS.

Total ekspor Vietnam selama Januari-Maret 2021 sebesar 77,34 miliar dolar AS, setara Rp1.121,43 triliun dengan kurs Rp14.500 per dolar AS, tumbuh 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sumbangan ekspor berasal dari produk elektronik, komputer dan suku cadangnya.

Hampir semua sektor usaha di Vietnam pulih, kecuali sektor pariwisata sebagai konsekuensi dari kebijakan karantina ketat oleh pemerintah. Turis asing masih dilarang masuk ke negara tersebut hingga Maret lalu.

Ekonomi negeri jiran Malaysia juga tumbuh dengan perkiraan sebesar 6-7,5 persen pada tahun ini setelah pada tahun lalu terperosok ke zona merah di level -5,6 persen. Mesin pertumbuhan ekonomi berasal  dari belanja publik dan privat.

Ekonomi Indonesia diperkirakan baru akan tumbuh pada kuartal II 2021. Beberapa stimulus yang diberikan pemerintah terutama untuk sektor otomotif dan properti baru dimulai pada akhir kuartal I dan akan berdampak pada kuartal II.

Pemulihan ekonomi akan semakin menguat hingga akhir tahun, terutama setelah adanya program vaksinasi Covid-19 yang berjalan serentak di sejumlah negara. Program vaksinasi diharapkan menurunkan tingkat infeksi Covid-19 sehingga kegiatan ekonomi bisa lebih longgar. Semoga!

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia