Kurikulum Menghapus Sejarah
Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka

Ilustrasi muid/watyutink.com

24 September 2020 15:45

Watyutink.com - Sejarah adalah omong kosong. Jika saya ingin mengetahui peristiwa masa lalu, saya bisa meminta sejarawan untuk bercerita. Sejarah cuma rangkaian peristiwa yang tak jelas juntrungnya, cuma catatan tanggal-tanggal, nama-nama, atau pertempuran yang tidak ada gunanya.

Seperti itulah Henry Ford, industriawan pabrikan mobil Amerika, memandang sejarah. “History is bunk”. Bagi pengusaha seperti dia sejarah tak terlalu penting, karena tidak ada yang bisa dipelajari dari berbagai peristiwa masa lalu yang silih berganti. Jelas tidak penting untuk memajukan industri mobil yang ia geluti, karena di masa lalu tidak ada mobil. 

Cara pandang sejarah ala Henry Ford ini, dalam perbandingan studi sejarah, dikenal sebagai pendekatan anarkis atau anti-sejarah (unhistoric). Dalam studi sejarah terdapat beragam cara narasi pendekatan atau perspektif, termasuk motif, yang membentuk sudut pandang (vantage point). Sejarah adalah merekonstruksi dan menulis ulang kisah masa lalu. Sejarawan memilah, memilih, dan menafsirkan peristiwa sesuai minat, motif, dan cara pandangnya.

Cara pandang sejarah yang paling populer adalah pendekatan politik. Dalam perspektif ini sejarah dinarasikan sebagai suksesi silih berganti kekuasaan politik. Naik dan turunnya raja, pergantian kekuasaan, kisah heroisme perjuangan “pahlawan” dalam mengusir atau menegakkan kedaulatan bangsa, naik atau turunnya presiden, dikisahkan secara kronologis. Sejarah dipresentasikan sebagai narasi perspektif tokoh-tokoh politik penting.

Sejarah nasional semacam itu lazim diajarkan di sekolah sebagai internalisasi, kalau bukan indoktrinasi: “nilai-nilai dan semangat kebangsaan”. Anak didik diajarkan untuk menghafal nama, tanggal, dan peristiwa sebagai kompetensi memahami narasi sejarah. Sebagai bagian dari penanaman sikap nasionalisme, identitas, dan komitmen kewarganegaraan (civic education).

Perspektif lain narasi sejarah adalah pendekatan “filosofis”. Sejarah sebagai tafsir filosofis peristiwa yang saling terhubung dan bertujuan, bukan sekadar rangkaian peristiwa yang terisolasi. Pendekatan ini terpengaruh filsafat idealisme Hegel, yang menganggap sejarah adalah rangkaian peristiwa linier manifestasi "Roh Absolut” yang bertujuan. Filsuf dan sejarawan Prussian, Oswald Spengler, dan Arnold Toynbee, Inggris, adalah contoh penafsir sejarah dengan pendekatan filsafat. Nilai penting narasi sejarah sejauh tafsir pemaknaannya.

Sejarah peradaban atau bangsa-bangsa, dalam tafsir filosofis Oswald Spengler, mirip proses kehidupan manusia: ada saat lahir, masa anak-anak, dewasa, menua, dan mati. Sejarah peradaban besar bisa juga dianalogikan dengan proses pergantian musim. Peradaban satu bangsa muncul saat musim semi, maju saat musim panas, mulai runtuh pada musim gugur, dan mati pada musim dingin. Peradaban atau bangsa muncul dan tenggelam silih berganti sebagai siklus. Bagi Arnold Toynbee, sejarah adalah proses linier yang terus maju (progression), evolusi kultural manusia untuk memperbaiki diri, dari era primitif ke era teknologi. 

Beberapa tahun terakhir ada “genre” baru penulisan sejarah. Menulis buku sejarah tanpa banyak memuat kisah-kisah faktual sejarah, melainkan satu rekonstruksi spekulatif. Opini atau perspektif penulisnya lebih dominan dalam menafsirkan peristiwa, ketimbang mendeskripsi peristiwa itu sendiri. Contoh populer adalah buku Yuval Noah Harari, “Sapiens; A Brief History of Humankind”. Benarkah ini buku sejarah?

Yuval menulis “Sapiens” diilhami oleh karya Jared Diamond “Guns, Germs, and Stell” (1997) yang lebih serius mengupas sejarah. Jared mengupas sejarah bukan dalam perspektif ketokohan manusia, melainkan faktor non-manusia yang kuat ikut mengubah sejarah. Bagi Jared, kondisi lingkungan dan perkembangan teknologi menjadi faktor yang lebih penting dalam perkembangan dan perubahan sejarah, ketimbang manusia. Sementara, bagi Yuval, faktor terpenting perubahan sejarah adalah kemampuan manusia berimajinasi.

Buku sejarah karya Jared Diamond dan Yuval Noah Harari, adalah contoh referensi sejarah yang mungkin tidak cocok untuk dimasukkan dalam “kurikulum” pelajaran sejarah di Indonesia. Dua buku itu menggugah kita untuk “berpikir kritis, membuka perspektif, dan melihat gambaran besar (big picture)”. Buku sejarah yang mengajak pembaca untuk melakukan refleksi, memaknai peristiwa, ketimbang menyoal, menghafal detil atau rincian peristiwa.

Dari uraian beragam pendekatan narasi sejarah di atas, bagaimana kita memaknai polemik isu “penghapusan kurikulum sejarah” yang ramai beberapa hari terakhir? Apa gambaran besar dari hiruk-pikuk polemik ini? Polemik ini sebenarnya bisa berpotensi menggugah pemikiran, jika masuk wilayah substansi menyangkut materi dan metode pengajaran sejarah (seperti polemik kebudayaan era 1930, atau polemik kesenian era 1960). Namun polemik ini telah padam, dan pasti tak tercatat dalam sejarah.

Penjelasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, telah mengubur polemik ini. Pemaparannya melalui video yang viral di media sosial telah membunuh potensi polemik pemikiran yang penting, menjadi soal sederhana, sekadar soal jadwal penyusunan kurikulum. Nadiem menegaskan: penyederhanaan kurikulum tidak diberlakukan hingga 2022. Pelajaran Sejarah tak akan dihapus. 

Penghapusan pelajaran sejarah, kata Nadiem, cuma isu yang dipicu oleh “bocornya” presentasi diskusi internal penyederhanaan kurikulum yang dibahas Kemendikbud. Pokok soal ternyata adalah kebocoran presentasi. Materi usulan kurikulum “masih rahasia”, tidak semestinya menjadi konsumsi perdebatan publik, karena belum menjadi kurikulum baru yang disahkan oleh negara. Publik sebaiknya tidak ikut campur dalam urusan memikirkan metode pengajaran sejarah kebangsaan. Itu berat, biar Kemendikbud saja yang memikirkan.

Nadiem meminta masyarakat tidak meragukan komitmennya pada sejarah kebangsaan. Namun, ini persoalannya. Sejarah sebagai refleksi pengetahuan untuk memupuk sikap kritis dan pikiran terbuka bagi anak didik memang bukan urusan komitmen individual baik itu presiden, menteri, atau guru sejarah (termasuk, apalagi, Henry Ford, yang tak punya komitmen apapun pada sejarah).

Yang lebih penting dari sekadar menyusun rumusan kurikulum pengajaran sejarah, adalah membangun ekosistem bagaimana memahami sejarah. Menyemai etos belajar  siswa agar mampu berpikir kritis, terbuka, dan ilmiah. Termasuk kritis terhadap sejarah bangsanya. Juga kritis melihat perseteruan kepentingan politik kontemporer, keriuhan sentimen banal antara khilafah vs komunis, misalnya. Pokok soal adalah, bagaimana agar kurikulum tidak menghapus kemampuan memahami sejarah.

SHARE ON

search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia