Mario Molina, Ilmuwan Ozon Sejati
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka

Ilustrasi Muid Watyutink.com

18 September 2021 10:00

Watyutink.com - Jika bukan karena Mario J. Molina, ahli kimia Amerika kelahiran Meksiko, mungkin akan lebih banyak lagi penderita kanker kulit di dunia ini. Pada 1995 Molina bersama Paul J. Crutzen dan F. Sherwood Rowland memperoleh Hadiah Nobel Kimia untuk karya mereka dalam kimia atmosfer, khususnya mengenai pembentukan dan dekomposisi ozon. 

Peran ketiga ilmuwan itu, terutama Mario Molina, selalu diangkat pada Hari Ozon Sedunia setiap 16 September, yang tahun ini bertema Montreal Protocol - Keeping us, our food and vaccines cool.

Ozon adalah gas yang secara alami berada di atmosfer bumi. Sekitar 90% ditemukan di stratosfer, sekitar 10 sampai 50 kilometer di atas permukaan bumi. Wilayah stratosfer dengan konsentrasi ozon tertinggi, yaitu antara ketinggian sekitar 15 dan 35 km, dikenal sebagai “lapisan ozon.”

Penipisan lapisan ozon menyebabkan peningkatan radiasi sinar ultraviolet berbahaya di permukaan bumi. Ini berdampak negatif terhadap kesehatan manusia, seperti kanker kulit, katarak mata, dan gangguan pada imunitas. Sinar ultraviolet berlebihan juga memengaruhi pertumbuhan tanaman, dan mengurangi produktivitas pertanian.

Aktivitas manusia, terutama penggunaan gas seperti klorofluorokarbon (CFC) dalam kaleng semprot, lemari es, dan pendingin ruangan memecah molekul ozon di atmosfer. Akibatnya terjadi penipisan lapisan ozon, bahkan menjadi lubang ozon di atas Kutub Selatan selama musim semi Belahan Bumi Selatan.

Montreal Protocol yang berlaku pada 1989 mengatur produksi dan konsumsi hampir 100 bahan kimia buatan manusia yang merupakan bahan perusak ozon. Pengaturan dilakukan bertahap dengan mengurangi konsumsi dan produksi bahan yang berbeda, dengan jadwal berbeda juga untuk negara maju dan berkembang. Sebagai kesepakatan internasional yang sukses, Protokol itu dapat mengurangi CFC sebanyak 99%.

Mario Molina sangat berperan dalam hampir semua proses, baik terkait ilmu pengetahuan dan proses negosiasi internasional hingga disepakati dan dilaksanakannya Montreal Protocol. Molina kemudian menjadi penasihat Presiden Clinton, Presiden Obama, beberapa Presiden Meksiko, dan tiga Paus di Vatikan. Majalah ilmiah Nature menulis, ia dapat mengomunikasikan esensi masalah teknis kepada siapa pun, dengan diplomasi yang halus dan kredibilitas ilmiah yang tinggi.

Semua bakat dan keterampilan Molina tidak lepas dari latar belakang keluarganya, pendidikannya, serta karakternya sebagai ilmuwan genius, santun, dan murah hati.

Sebagai putra seorang pengacara yang juga profesor dan Duta Besar Meksiko untuk Australia, Ethiopia, dan Filipina, Molina selalu mendapat pendidikan terbaik.

Sejak kecil ia gemar bereksperimen kimia, sehingga untuk memupuk bakatnya, di usia yang baru 11 tahun ia disekolahkan di Swiss. Setelah pendidikan sarjana Teknik Kimia di Meksiko, Molina menempuh program doktoral Kimia Fisik di University of California Berkeley, Amerika Serikat, dilanjutkan dengan Program Pascadoktoral di University of California, Irvine di bawah bimbingan Prof. Sherwood Rowland.

Molina menulis untuk situs Nobel Prize, Rowland menawarkan beberapa opsi riset, dan yang menarik adalah meneliti dampak lingkungan dari CFC, yaitu bahan kimia yang telah terakumulasi di atmosfer dan ketika itu dianggap tidak berdampak signifikan terhadap lingkungan.

Molina dan Rowland mengembangkan “Teori penipisan ozon CFC” dan menuliskannya di majalah Nature, Juni 1974. Mereka kemudian terus berjuang untuk memberikan pemahaman tidak hanya bagi ilmuwan, tetapi juga untuk pembuat kebijakan dan media massa.

Dengan Hadiah Nobel di tangan dan karier ilmiah cemerlang di berbagai universitas ternama, termasuk MIT, Molina tetap bersahaja. Ia menulis: “Bekerja dengan mahasiswa pascasarjana dan pascadoktoral memberi saya stimulus intelektual yang tak ternilai. Dalam mengajar, ketika mencoba menjelaskan pandangan saya kepada siswa yang berpikiran kritis dan terbuka, saya terus ditantang untuk memikirkan kembali berbagai ide. Mengajar dan meneliti merupakan kegiatan yang saling melengkapi dan menguatkan.”

Mario Molina wafat pada 7 Oktober 2020 dalam usia 77 tahun di Mexico City karena serangan jantung. Di bulan-bulan terakhir hidupnya, dengan sangat bersemangat ia menganjurkan penggunaan masker untuk mengurangi penularan COVID-19 di Meksiko.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

2024: Orientasi Pergantian Semata, Celaka!

0 OPINI | 21 September 2021

Naik Turun Rezeki di Era Pandemi

0 OPINI | 16 September 2021

Majelis, Kembalikan Kedaulatan Rakyat!

0 OPINI | 14 September 2021

search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia