Menanti Hari Bumi
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka

Ilustrasi muid/ watyutink.com

17 April 2021 10:30

Watyutink.com - Hari Bumi atau Earth Day yang diperingati setiap 22 April oleh setidaknya satu miliar penduduk dunia, tahun ini bertema Restore Our Earth - Pulihkan Bumi Kita. Tema ini dipilih karena bumi semakin rusak oleh dua krisis utama, yaitu perubahan iklim dan pandemi COVID-19.

Memulihkan Bumi Kita, menurut situs earthday.org adalah mengatasi perubahan iklim melalui sistem alam, seperti praktik pertanian regeneratif dan penghutanan kembali, juga melalui teknologi yang ada dan aman. Solusi harus bermanfaat bagi mereka yang paling terkena dampak kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.

Bumi membutuhkan komitmen dari para pemimpin dunia untuk mendukung literasi iklim dan membangun keterampilan masyarakat sehingga dapat  menciptakan warga negara yang terlibat dan aktif secara global.

Hari Bumi 2021 sangat dinantikan oleh banyak pihak, karena Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengundang 40 pemimpin dunia, termasuk Presiden Jokowi, untuk acara virtual Leaders Summit on Climate - KTT Para Pemimpin tentang Iklim, pada 22 dan 23 April.

Acara ini menekankan urgensi dan manfaat ekonomi melalui aktivitas iklim yang lebih tangguh, serta merupakan tonggak penting menuju Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (COP26) bulan November di Glasgow, Inggris.

KTT ini melanjutkan kembali Major Economies Forum on Energy and Climate yang mempertemukan 17 negara, termasuk Indonesia, sebagai penghasil 80 persen emisi dan produk domestik bruto global. Presiden Biden juga mengundang para kepala negara yang menunjukkan kepemimpinan iklim kuat, yang rentan terhadap dampak iklim, atau yang sedang memetakan jalur inovatif menuju ekonomi ramah lingkungan.

Menanggapi KTT tersebut, Yayasan Madani Berkelanjutan sebuah lembaga nirlaba di Indonesia yang berupaya menjembatani hubungan antar pemangku kepentingan untuk mencapai solusi inovatif terkait tata kelola hutan dan lahan, menggagas sebuah pertemuan sebelum Hari Bumi. Perwakilan sejumlah organisasi diajak bertukar pikiran, untuk mengumpulkan narasi masyarakat sipil mengenai urgensi pelaksanaan adaptasi dan pencegahan perubahan iklim di level internasional dan peran penting Indonesia di dalamnya.

Di tingkat global, untuk memacu aksi iklim dan menyadarkan akan ancaman yang dihadapi umat manusia, earthday.org mengundang aktivis, pendidik, peneliti, musisi, artis, dan influencer dalam siaran langsung tahunan Earth Day Live: Restore Our Earth. Bersamaan dengan KTT yang diselenggarakan Presiden Biden, acara ini menampilkan diskusi panel, film, dan pertunjukan musik khusus yang mengeksplorasi proses alami, teknologi hijau mutakhir, dan pemikiran inovatif yang dapat memulihkan ekosistem dunia.

Di antara kegiatan Hari Bumi lainnya adalah Global Youth Climate Summit - KTT Iklim Pemuda Global, dan Teach for the Planet: Global Education Summit - Mengajar untuk Planet: KTT Pendidikan Global.

Sementara itu, juga untuk Hari Bumi, Future Food Institute dan FAO e-learning Academy dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB merancang maraton digital selama 24 jam berjudul Food for Earth – Pangan untuk Bumi.  Acara global ini menghimpun pemikiran cerdas dan praktik terbaik tentang sistem pangan berkelanjutan untuk regenerasi Planet Bumi yang akan fokus pada Planet, People, Prosperity – Bumi, manusia dan kesejahteraan.
 
Sistem pangan sangat penting untuk diplomasi pangan dan agenda pangan global, karenanya acara Food for Earth akan melintasi seluruh Negara-negara G20 termasuk Indonesia. Pesan-pesan diteruskan dari masyarakat adat yang mencerminkan identitas wilayah, kepada pelaku usaha, startup, ilmuwan, jurnalis, pemimpin muda, pembuat kebijakan, konsultan, maupun petani.

Segmen Indonesia pada Food for Earth membahas empat topik, yaitu Partisipasi Perempuan dalam Ekonomi sebagai Bagian dari Ketahanan Pangan Keluarga, Kuliner Ramah Iklim, Pemanfaatan Tepung Sagu, serta Sistem Pangan Berkelanjutan untuk Indonesia.

Earthday.org mencanangkan bahwa perayaan Hari Bumi 2021 akan berlangsung selama 3 hari, dari 20 April sampai 22 April, namun pegiat lingkungan selalu menegaskan, bahwa “Setiap Hari adalah Hari Bumi.”

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia