Pasar untuk Gastronomi Ramah Bumi
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka

Ilustrasi muid/watyutink.com

20 June 2020 10:15

Watyutink.com - Pasar tradisional sebagai ruang publik adalah area yang dinamis, inklusif, dan aman, tempat berbagai lapisan masyarakat dapat berkumpul secara bebas. Selain juga sebagai jalur untuk promosi  pelestarian budaya, pasar berfungsi sebagai pusat sistem pangan lokal.

Sayangnya, sekarang kegiatan di pasar tidak menggelora seperti sebelum pandemi. Langkah-langkah untuk mengendalikan wabah COVID-19 sangat memengaruhi rantai pasokan pangan global. Pembatasan memperlambat panen di beberapa bagian dunia, membuat jutaan pekerja musiman kehilangan mata pencaharian, dan juga membatasi transportasi bahan makanan ke pasar.

Pabrik pengolahan daging dan pasar makanan di banyak lokasi terpaksa tutup karena wabah COVID-19 melanda para pekerja. Petani memusnahkan produk karena gangguan rantai pasokan dan penurunan permintaan konsumen. Akibatnya, penduduk perkotaan sekarang mulai kesulitan untuk mendapatkan buah dan sayuran segar, susu, daging, dan ikan.

Menurut pernyataan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia, beberapa hari yang lalu, dari data 110 pasar seluruh Indonesia ada 573 orang positif COVID-19 dan 32 orang meninggal dunia. Data ini hanya sebagian kecil dari 13.450 pasar tradisional di seluruh Indonesia, tempat penghidupan 12,3 juta pedagang  dan pekerja pendukung lainnya. Karenanya, Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan sebagai bagian dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 kemudian mengeluarkan Surat Edaran Menteri Perdagangan Nomor 12 Tahun 2020 tentang pasar yang beradaptasi dengan kebiasaan baru.

Dalam kondisi pandemi sekarang, tindakan darurat untuk mengendalikan virus dan membantu mereka yang menghadapi krisis ekonomi, sosial maupun kesehatan, tetap merupakan prioritas. Namun, pasar tradisional tidak boleh mati, karena disamping mendorong roda ekonomi, pasar juga merupakan refleksi budaya lokal, seperti gastronomi suatu daerah.

Gastronomi telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa sebagai ekspresi budaya yang terkait dengan keanekaragaman hayati dan budaya dunia. Dengan pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, gastronomi berkelanjutan (sustainable gastronomy) saat ini berperan sangat penting.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), gastronomi kadang disebut sebagai seni makanan, dan bisa juga merujuk pada gaya memasak, atau makanan dan masakan lokal. Keberlanjutan adalah gagasan bahwa sesuatu (misalnya pertanian, perikanan, atau bahkan persiapan makanan) dilakukan dengan tidak boros sumber daya alam dan dapat berlanjut ke masa depan tanpa merusak lingkungan atau kesehatan.

Gastronomi berkelanjutan, dengan demikian, berarti masakan yang memperhitungkan dari mana bahan-bahannya berasal, bagaimana bahan masakan ditanam, sampai ke pasar dan akhirnya ke meja makan.

Mengkonsumsi produk yang ditanam secara lokal membantu meningkatkan ekonomi suatu daerah, mendukung para petani dan mengurangi gas rumah kaca serta sumber daya yang digunakan dalam mengangkut makanan. Membeli produk lokal berarti ada permintaan, sehingga membantu petani mempertahankan mata pencaharian.

Untuk Indonesia tidak susah menemukan budaya makanan lokal. Seperti terlihat pada peta persebaran data yang disusun oleh Sobat Budaya, setidaknya ada 31.565 jenis makanan dan minuman tradisional Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dan angka ini terus bertambah.

Pandemi COVID-19 juga membuat banyak pihak menyadari adanya kebutuhan mendesak untuk mengubah sistem pangan dunia. Secara global, sistem pangan berkontribusi besar terhadap perubahan iklim dan krisis lingkungan yang sedang berlangsung di planet ini. Sistem pangan menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan menyebabkan sepertiga dari semua emisi gas rumah kaca penyebab krisis iklim.

Situs ReliefWeb menekankan, para pengambil keputusan perlu secara cepat memikirkan kembali bagaimana seharusnya penduduk dunia memproduksi, memproses, memasarkan, mengonsumsi makanan, dan membuang limbah.

Pada prinsipnya, merawat kuliner dan pasar lokal berarti mengangkat citra gastronomi ramah bumi dan melestarikan akar kuliner, yaitu tanaman tradisional, resep, dan budaya dari mana semua masakan lokal berawal.

Pandemi dapat berfungsi sebagai titik balik untuk menyempurnakan sistem pangan dan menjadikannya lebih inklusif, berkelanjutan, dan tangguh.

SHARE ON

search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia