Pemilu, Pilkada dan Reformasi Topeng
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka

Ilustrasi muid/watyutink.com

18 September 2020 11:45

Watyutink.com - Proses reformasi yang sedang berjalan di negeri bagai mobil mogok yang sulit digerakkan. Para aktivis reformasi seolah telah kehilangan tenaga dan pikiran kreatif untuk menggerakkan roda reformasi. Kerongkongan mereka telah kering meneriakkan kata reformasi setiap hari, suara-suara yang dulu lantang kini menjadi parau dan serak karena terus menerus memperingatkan banyak pihak agar konsisten menegakkan reformasi. Alih-alih terjadi kejelasan arah dan bentuk reformasi, yang terjadi justru sebaliknya, refomasi semakin kabur. Rakyat kehabisan harapan terhadap reformasi yang dahulu pernah menjanjikan perbaikan keadaan.

Ada beberapa hal yang menyebabkan keadaan ini terjadi: pertama, tidak ada batas yang jelas antara figur, sosok dan kelompok yang reformis dengan non reformis. Saat ini masyarakat sulit membedakan mana pejuang reformasi sejati dan mana pengkhianat yang berkedok sebagai reformis, karena masing-masing berbaur jadi satu, sama-sama menggunakan jargon reformasi untuk memperoleh posisi dan merebut akses di panggung politik. Dan anehnya kelompok yang tersebut terakhir ini justru memiliki kekuatan yang lebih untuk meneriakkan kata reformasi. Bisa dimaklumi, karena mereka memiliki fasilitas “pengeras suara” yang lebih memadai, dan didukung oleh berbagai aksesori yang memungkinkan mereka menyembunyikan “wajah” aslinya.

Kedua, adanya gejala “penyakit” ingatan pendek (short memory) yang menghinggapi mayoritas bangsa Indonesia. Semua orang dengan mudah dapat menjadi pejuang reformasi dan mendapat julukan reformis hanya dengan berteriak lantang memberantas KKN, menegakkan supremasi hukum dan anti korupsi. Seorang yang dulunya paling KKN, paling menginjak-injak hukum, bertindak korup, mengabdi pada penguasa tiran, tiba-tiba menjadi seorang tokoh yang dipuja-puja hanya karena menjadi politisi yang sering bicara di TV. Ingatan jangka pendek masyarakat Indonesia ini telah dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan politik masa lalu untuk mencuci dosa sekaligus alat untuk menyembunyikan dan mempertahankan kepentingan.

Selain penyakit short memori munculnya reformasi topeng juga disebabkan oleh kuatnya tarikan pragmatisme politik akibat diterapkannya demokrasi liberal dalam sistem politik Indonesia. Sistem ini telah melahirkan aktor-aktor baru, yang dulunya para pejuang reformasi namun larut dalam nikmatnya kekuasaan. Para aktor baru ini juga menggunakan reformasi sebagai topeng untuk menyembunyikan kepentingan.

Di sisi lain, mereka yang tidak terserap dalam ruang kekuasaan juga menggunakan jargon reformasi, dan dalih menyelamatkan bangsa untuk bisa membuka pintu kekuasaan dan memberikan ruang bagi mereka. Masing-masing menjadikan rakyat hanya sebagai  alat untuk tawar menawar sambil dihibur dengan retorika dan simbol-simbol agama untuk bisa digerakkan mendukung kepentingan. Pendeknya, reformasi telah berubah menjadi panggung politik dan pasar kekuasaan yang riuh dan gaduh.

Social Disorder

Proses reformasi yang terjadi secara tiba-tiba telah menyebabkan terjadinya guncangan budaya. Saat reformasi terjadi, masyarakat dipaksa untuk menerima dan mengikuti hukum-hukum sosial  modern yang diasumsikan serba rasional, formal, struktural dan institusional sebagaimana tercermin dalam sistem demokrasi liberal. Kondisi ini menyebabkan masyarakat berperilaku sosial ganda. Di satu sisi mereka harus menjadikan nilai-nilai dan sistem politik modern yang liberal sebagai standar untuk melihat realitas dan bersikap, namun di sisi lain, kedekatan dengan akar tradisi membuat rakyat sulit keluar dari tarikan belenggu tradisi.

Untuk menyiasati kedua tuntutan tersebut timbul “kompromi negatif” yang cenderung destruktif yaitu mengambil sisi terburuk dari modernisasi dan tradisi. Timbulnya proses supremasi hukum yang menafikan keadilan, mempertahankan konstitusi mengabaikan kepatutan, dan munculnya politik tanpa etika dan kepedulian pada sesama merupakan bukti terjadinya disorientasi dari para elite politik. Mereka menjadikan sistem politik modern sebagai bingkai dan selimut untuk menyembunyikan hasrat dan libido kekuasaan. Di pihak rakyat, terjadi hal yang sama. Mereka menggunakan identitas kultural, agama dan etnik sebagai selubung untuk menyembunyikan kepentingan pribadi dan kelompok dengan mengabaikan kepentingan bangsa. Munculnya fenomena gerakan radikal agama, praktik kekerasan dalam menyelesaikan konflik merupakan bukti adanya ketidak sesuaian anatara sistem politik dengan budaya dan tradisi yang berlaku di masyarakat.

Anehnya para elite tidak berupaya melakukan pembenahan dengan cara melakukan pendidikan politik yang benar. Mereka justru memanfaatkan kondisi ini untuk memperoleh keuntungan politik dengan berlindung di balik sistem dan konstitusi. Sebaliknya, rakyat yang merasa kepentingannya tidak terwakili dalam sistem dan berpikiran bahwa konstitusi hanya dijadikan alat untuk melegitimasikan kepentingan elite berusaha melawan dengan caranya sendiri. Perlawanan rakyat tidak lagi menggunakan konstitusi atau mekanisme modern yang telah mereka curigai tetapi menggunakan cara presure massa dan sejenisnya. Akibatnya rakyat semakin berjarak dengan pemimpin dan elite politik. Proses kesemerawutan sosial (social disorder) ini akan terus berlangsung jika tidak ada kesadaran dari semua pihak untuk melakukan pembenahan.

Penyibak Topeng Reformasi

Melihat kenyataan yang ada, nampaknya proses reformasi yang ada masih menyisakan persoalan besar bagi bangsa ini. Reformasi telah menjadi ajang tarik tambang antara pihak-pihak yang ingin mempertahankan kepentingan sambil menyembunyikan kebusukan melalui sistem politik dan konstritusi dengan rayat yang ingin secepatnya memperoleh hasil dari perubahan.

Kenyataan ini menuntut semua pihak untuk bersikap arif, jujur dan waspada dengan menyadari kelemahan dan keterbatasan masing-masing. Jika tidak, reformasi akan menjadi mantra ampuh yang dapat mencuci dosa dan menyembunyikan kepentingan, sehingga seorang pemimpin dan politisi yang tamak dan korup bisa terlihat suci dan bersih sehingga menjadi pahlawan yang disanjung-sanjung. Sebaliknya seorang pejuang sejati justru tersingkir di lorong kehidupan yang sunyi dan pengap karena tidak mampu berkompetisi dalam sistem politik yang mahal dan penuh intrik.

Semoga Pemilu kali ini mampu melahirkan pemimpin dan politisi yang mampu membuka selubung para penjahat dan pengkhianat rakyat yang bersembunyi di balik topeng reformasi. Hal ini bisa tercapai kalau rakyat memiliki kecerdikan dalam mensikapi politisi bertopeng yang menggunakan uang dan bantuan untuk memperoleh kekuasaan.

Pemilu dan Pilkada adalah mekanisme formal politik untuk melakukan rotasi kekuasaan. Selain itu Pemilu dan Pilkada juga bisa menjadi momentum untuk transformasi sosial. Jika Pemilu dan Pilkada tidak mampu membuka selubung reformasi topeng, maka bangsa Indonesia akan semakin jauh terperosok dalam jurang kehancuran karena menjadikan orang-orang bertopeng sebagai pemimpin dan wakil yang akan menentukan nasib bangsa. Dan itu artinya pemilu menjadi sarana konsolidasi para “pahlawan bertopeng” untuk menguasai Negara. Dan rakyat akan kembali sindiri dalam kesengsaraan tanpa harapan. Inilah ironi demokrasi di era reformasi

SHARE ON

search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia