Resesi AS, Peluang dan Ancaman Bagi Indonesia
YB. Suhartoko, Dr., SE., ME
Dosen Program Studi S1 Ekonomi Keuangan dan Perbankan dan Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya Jakarta
berita
Berpikir Merdeka

03 October 2019 10:30

Watyutink.com - Perekonomian AS diprediksi memasuki masa resesi sejak akhir 2018 sampai awal 2019. Indikasi telah terlihat dari selisih terendah imbal hasil surat berharga jangka panjang  tenor 10 tahun dengan jangka pendek tenor 2 tahun kurang dari 10 basis poin. Ini merupakan selisih terendah sejak krisis terakhir. Selain itu, kurva imbal hasil surat berharga di AS telah mengalami pembalikan (inverted curve) lebih cepat dari perkiraan pada awal 2020.

Sementara itu, Bank Sentral AS (The FED) telah melakukan dua kali pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sejak Juli sampai 19 September 2019.  Suku bunga  FED  (FFR) sekarang berkisar 1,75 – 2 persen. Sampai saat ini kemungkinan penurunan FFR masih simpang siur.

Pendapat Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell dalam sambutannya pada 19 September tidak secara pasti akan melanjutkan langkah penurunan FFR. Dia juga mengatakan The Fed memproyeksikan ekonomi tetap kuat dan inflasi tetap di sekitar target 2 persen. Satu atau dua langkah pemotongan kecil bisa saja terjadi di masa depan. 

Perbedaan pandangan mengenai kelanjutan langkah penurunan suku bunga juga terjadi antara Presiden Trump dan Jerome Powell. Trump terus mendesak penurunan suku bunga bahkan sampai dengan suku bunga negatif untuk memperkuat perekonomian AS. Namun demikian respon dari Powell tidak sesuai harapan Trump. Di internal FED juga terjadi perbedaan pandangan.

Penurunan FFR dilihat dari tekanan Trump dan mayoritas pejabat FED yang menyatakan akan terjadi penurunan FFR yang ketiga kalinya pada 2019 besar kemungkinannya akan terjadi, diperkuat lagi oleh keinginan pasar yang tercermin dari penurunan Indeks Dow Jones sebesar 150 poin yang merupakan sinyal bahwa pasar menginginkan penurunan FFR yang lebih tajam.

Nampaknya kemungkinan terjadinya resesi yang lebih dalam di AS telah mulai menghasilkan efek penularan kepada negara-negara lain. Singapura, Inggris, Jerman dan Hongkong paling tidak sudah menyatakan diri memasuki awal resesi yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang menurun sangat drastis.

Apakah pelambatan ekonomi AS dengan penurunan FFR serta kondisi  beberapa negara yang memasuki masa resesi berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia?

Ada beberapa situasi yang dihadapi perekonomian Indonesia saat ini. Pertama, terjadinya pertumbuhan ekonomi yang tidak terlalu tinggi sejak 2014 yang diperparah lagi dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dan negara tujuan ekspor.

Kedua, ketidakstabilan nilai tukar rupiah yang disebabkan oleh faktor non fundamental ekspektasi nilai tukar rupiah. Ketiga, rendahnya kinerja menarik investasi langsung serta sensitifnya investasi portofolio terhadap ekspektasi nilai tukar dan risiko.

Pada saat suku bunga acuan BI dinaikkan sampai dengan 6 persen, BI bertujuan meredam peningkatan arus keluar aliran modal portofolio agar rupiah kembali menguat melalui pasar surat berharga.

Untuk mendorong sektor riil BI melakukan pelonggaran makroprudensial dalam kredit perbankan. Hasilnya adalah rupiah kembali stabil, namun surat berharga Indonesia terasa sangat mahal, sehingga dapat mengganggu penggalangan dana pihak ketiga oleh perbankan yang selanjutnya mengganggu penyaluran kredit perbankan.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 18-19 September 2019 memutuskan  untuk menurunkan BI 7-day  Repo Rate  sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen. Selain itu, suku bunga Deposit Facility juga lebih rendah sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,00 persen. Kebijakan yang bersifat ekspansif ini ditambah dengan pelonggaran makroprudensial dalam perkreditan.

Dengan demikian kebijakan yang dilakukan BI saat ini lebih diarahkan untuk mendorong peningkatan investasi di sektor riil untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun ada beberapa hal yang patut diwaspadai adalah dalam hal aliran investasi portofolio dan kecepatan mekanisme transmisi moneter dalam penggalangan dana pihak ketiga dan penyaluran kredit.

Selain perbedaan suku bunga domestik dengan suku bunga internasional, aliran investasi portofolio juga dipengaruhi ekspektasi depresiasi nilai tukar rupiah serta faktor risiko. Penurunan suku bunga acuan AS yang direspon oleh penurunan suku bunga acuan BI menyebabkan perbedaan suku bunga bukan penyebab utama, bahkan akan mendorong aliran modal portofolio masuk ke Indonesia.

Kebijakan moneter ekspansif AS yang direspon dengan  kebijakan moneter ekspansif Indonesia, nampaknya tidak akan mendorong pembentukan ekspektasi pelemahan rupiah. Namun yang patut diwaspadai adalah adanya peningkatan risiko politik yang akan menjadi penghambat aliran modal portofolio yang masuk.

Diperkirakan risiko politik akan meningkat sampai dengan akhir tahun ini dan pekerjaan rumah yang besar adalah menurunkan suhu politik yang memanas saat ini. Kesulitannya adalah banyaknya faksi-faksi politik dan kepentingan merupakan kesulitan tersendiri menurunkan suhu politik. Kesalahan dalam bertindak secara politik akan semakin memperbesar turbulensi politik yang menunjukkan eskalasi peningkatan menjelang pelatikan presiden.

Penurunan suku bunga acuan melalui mekanisme transmisi moneter, seharusnya direspon oleh penurunan suku bunga simpanan dana pihak ketiga dan suku bunga kredit. Namun demikian butuh waktu minimal 3 bulan untuk sampai kepada penurunan suku bunga simpanan dan minimal 6 bulan untuk sampai suku bunga kredit.

Selama transmisi moneter tersebut belum terjadi, perlu diwaspadai perubahan kondisi ekonomi dunia dan AS, apakah mulai terjadi pembalikan dengan penurunan FFR atau masih diperlukan penurunan FFR.

Peningkatan investasi di sektor riil, faktor pendorongnya bukan sekadar penurunan suku bunga saja, tetapi iklim investasi, kondisi permintaan dan penawaran, tenaga kerja dan upah, perizinan serta kebijakan-kebijakan pemerintah pusat maupun daerah juga sangat mempengaruhi.

Bank Dunia dalam paparannya “Global Economic Risk and Implication for Indonesia” mengemukakan bahwa Indonesia akan merasakan dampak perlambatan ekonomi dunia dengan mengalami pertumbuhan ekonomi yang melambat, karena hampir semua negara tujuan ekspor Indonesia mengalami pelambatan pertumbuhan, seperti China, AS, Eropa, Jepang dan ASEAN.

Pertumbuhan ekonomi yang rendah bisa ditingkatkan melalui peningkatan investasi riil dalam negeri, juga dilakukan dengan meningkatkan investasi asing langsung.  Namun demikian menurut data Bank Dunia,  dalam kurun waktu Juni – Agustus 2019, dari 33 perusahaan China yang akan berekspansi ke luar negeri, 23 ke Vietnam dan 10 ke Kamboja dan tidak ada satupun ke Indonesia.

Data lain mengenai kesiapan Indonesia menerima investasi langsung asing juga tidak menggembirakan. Pada 2017,  ada 73 perusahaan Jepang yang berproduksi di Jepang, China dan Singapore pindah ke Vietnam, 43 ke Thailand, 11 ke Philipina, dan hanya 10 ke Indonesia. Artinya di tingkat ASEAN saja kita kalah bersaing, terutama dalam hal perizinan, pajak, upah buruh dan produktivitas serta ketersediaan energi dan infrastruktur.

Sangat  mungkin dengan situasi pelambatan ekonomi dan ketidakpastian ekonomi dunia akan mendorong Indonesia memasuki kondisi resesi ekonomi, karena sumber-sumber pertumbuhan  konsumsi masyarakat terlalu sulit diharapkan meningkat secara signifikan, sedangkan ekspor justru mengalami hambatan karena penurunan pertumbuhan negara tujuan ekspor. Faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi mau tidak mau harus ditumpukan ke investasi dengan berbagai kelemahannya.

Momentumnya sangat pendek, masuk ke dalam resesi ekonomi, bertahan dalam pertumbuhan yang moderat atau bahkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Yang terakhir ini seharusnya menjadi pilihan dengan berbagai konsekuensinya yang harus dilakukan dalam jangka pendek seperti memperbaiki perizinan, insentif pajak sebagai kelanjutan pemanfaatan pembangunan infrastruktur. Yang tidak kalah pentingnya adalah menurunkan risiko ekonomi dan politik berinvestasi di Indonesia.

Selamat bekerja keras pemerintahan yang baru. Banyak pekerjaan rumah berat yang harus diselesaikan.

SHARE ON

search
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Pelantikan Presiden, Stasiun Palmerah – Tanah Abang Tak Layani Penumpang Rute Rangkasbitung             Prabowo-Sandi & Rombongan Akan Hadiri Pelantikan Jokowi             PDIP: Tiga Kepala Daerah di Jatim Masuk Bursa Menteri             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)