Sakaratul Maut Kekuasaan
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka

Ilustrasi muid/watyutink.com

01 July 2020 12:30

Watyutink.com - Sakaratul maut adalah situasi yang sangat mengerikan dan menakutkan yang pasti dialami semua orang. Meski demikian, amal perbuatan seseorang akan sangat menentukan proses sakaratul maut. Beberapa ayat Al-Qur'an dan hadis menggambarkan kondisi sakaratul yang dialami seseorang. Artinya proses dan kondisi sakaratul maut akan tergantung pada amal perbuatan seseorang.

Bagi orang beriman sakaratul maut akan terjadi secara mudah, tanpa rasa sakit yang berarti. Hadis Rasulullah menyebutkan, gambaran sakaratul maut bagi orang-orang beriman, ruhnya akan keluar dari jasad seperti rambut yang dicabut dari tepung. Sangat mudah, ringan dan tampa rasa sakit yang berarti. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika malaikat maut diperintahkan Allah SWT untuk mencabut nyawa seorang mukmin, yang saleh maka ia akan mencabut nyawa orang tersebut dari tempat yang paling mudah,

Para ahli tasawuf menggambarkan sakaratul maut merupakan pintu gerbang perjumpaan orang beriman yang ahli ibadah dengan kekasihnya, yaitu Allah SWT. Sakaratul maut bagi orang-orang yang sudah mencapai derajad ridha merupakan peristiwa yang sangat membahagiakan dan menggembirakan, sehingga bisa menghilangkan berbagai rasa sakit yang ada. 

Hal sebaliknya terjadi pada orang-orang zalim yang selalu melekatkan hati dan jiwanya pada kemewahan dan kenikmatan dunia sehingga tega berbuat zalim dan mengabaikan Allah. Karena lekatnya pada dunia, maka ruh akan sulit keluar dari raga. Akibatnya sakaratul maut akan menjadi siksaan yang luar biasa, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an: “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang zalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukuli dengan tangannya (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya,” (QS Al-An‘am [6]: 93).

Dalam salah satu hadis juga digambarkan, sakaratul maut bagi orang-orang zalim dan durhaka pada Allah SWT, seperti selembar sutra yang melekat pada duri-duri kemudian dicabut secara paksa, maka sutra tersebut akan sulit diambil sampai robek. Rasulullah SAW bersabda: “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembaran kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa bagian kain sutera yang tersobek.” (HR. Bukhari). Sedangkan  Imam Ghazali menggambarkan sakaratul maut sebagai sebagai berikut: Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan ke dalam perut seseorang, kemudian seseorang menarik sekuat-kuatnya sehingga ranting itu pun membawa semua bagian tubuh yang tersangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa” .

Kondisi sakaratul maut ini sepertinya juga berlaku terhadap kekuasaan. Sakaratul maut kekuasaan yang adil, dijalankan secara amanah akan berjalan dengan baik dan mudah. Tanpa gejolak, tanpa benturan yang berarti. Sang penguasa akan rmelepasnya dengan ikhlas sekalipun kekuasan itu diambil secara paksa. Penguasa yang tidak melekatkan diri  pada kepentingan politik duniawi akan dengan mudah melepas kekuasaanya. Seperti ruh yang tidak melekat pada urusan duniawi akan dengan mudah meninggalkan raga untuk berjumpa kekasihnya, Allah SWT. 

Sebaliknya kekuasaan yang dilekatkan pada kepentingan duniawi, sehingga tega berbuat zalim demi memburu kenikmatan hidup dan kekuasaan yang menjadi sarana menumpuk harta kekayaan maka akan sulit dilepaskan. Kekuasaan yang seperti ini akan sulit dilepas dari penguasa yang menggengamnya. Mereka akan berusaha terus menggenggam kekuasaan tersebut.sehingga menimbulkan kegaduhan dan kecauan yang terus menerus ketika mengalami sakaratul maut. 

Seperti halnya tubuh yang sudah lemah dan kehilangan seluruh kekuatan, namun nyawa susah lepas dari raga sehingga yang timbul adalah rasa sakit yang tiada tara. Dan dalam menahan rasa sakit itu seseorang akan mengerang, teriak bahkan kadang bisa berontak. Demikian juga sakaratul maut kekuasaan zalim, sekalipun kekuasaan tersebut sudah tidak berada di tangan, namun mereka akan selalu berusaha terus menggengam dan merebut kembali dengan segala cara.

Saya khawatir munculnya berbagai kerusuhan, kekacauan, destabilitas sosial, demo yang terus menerus dan berbagai gejolak politik yang terjadi saat ini merupakan cerminan terjadinya sakaratul maut kekuasaan zalim. Suatu ekspresi dari rasa sakit dan pedih dari kekuasaan yang mengalami senjakala, yang mestinya sudah harus dilepas karena sudah mencapai garis batas untuk dilepas. Tapi sang pemegang kekuasaan belum rela untuk melepaskannya, sebagaimana layaknya ruh yang melekat pada kenikmatan dunia yang susah dilepas, sehingga melakukan berbagai upaya untuk mempertahankannya.

Jika sakaratul maut seorang zalim kesakitannya hanya personal, kalau dia teriak hanya mengganggu tetangga dan jika meronta hanya merusak ranjang dan kamar, tidak demikian dengan sakaratul maut kekuasaan. Teriakan sakaratul maut kekuasaan bisa mengnggu dan menguncangkan warga negara, dan jika meronta bisa merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan bisa menghancurkan tatanan kehidupan.

Orang-orang yang zalim biasanya sulit diajak berzikir dan ditalqin mengucapkan kalimat thayyibah. Hal yang sama juga terjadi pada kekuasaan yang mengalami sakaratul maut, akan sulit diingatkan dan dinasehati. Rasa galau karena takut hartanya disita dan rasa sakit karena terganggu kenyaman hidup akan membuat keuasaan zalim dan rakus menjadi kalap saat mengalami sakaratul maut sehingga sulit “ditalqin” atau dituntun menuju pintu pintu taubat.

Menghadapi sakaratul maut kekuasaan zalim, bisa disamakan dengan menghadapi sakaratul maut orang yang zalim yaitu tetap ditalqin dan dituntun dengan kalimat thayyibah agar taubat dan sadar, meski hal itu sulit. Kedua didoakan agar kekuasaan tersebut khusnul khotimah, artinya memiliki kesadaran legowo melepas kekuasaan yang pernah digenggamnya, tidak perlu dipertahankan dengan segala cara. Didoakan mereka rela mepaskan harta yang diperoleh dengan cara zalim, kepada negara, tidak perlu takut dan khawatir jatuh miskin hara karena hartanya disita. Justru dengan melepas semuanya secara ikhlas, maka kesakitan sakaratul maut kekuasaan akan bisa hilang.. 

Yang terpenting, kita semua, bangsa Indonesia, menjaga diri agar tidak terkena dan terpengaruh oleh perilaku kalap kekuasaan zalim yang mengalami sakaratul maut. Karena kalau bangsa ini terpengaruh ulah sakaratul maut kekuasaan zalim, maka situasi bisa kacau dan tatanan kehidupan bisa rusak. Semoga Allah SWT melindungi bangsa ini dari sakaratul maut kekuasaan yang menyakitkan.

SHARE ON

search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia