Tapering Off Bisa Bikin Pemulihan Ekonomi Kedodoran
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka

Ilustrasi Muid Watyutink.com

02 September 2021 20:15

Watyutink.com – Indonesia tengah menikmati inflasi rendah. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), dari Januari hingga akhir Agustus tahun ini inflasi hanya 0,84 persen. Secara tahunan (yoy) inflasi hanya sebesar 1,59 persen. Untuk Agustus sendiri, inflasi tercatat 0,03 persen.

BPS mencatat inflasi sebesar 0,03 persen pada Agustus 2021 karena beberapa harga komoditas mengalami peningkatan dan adanya momentum tahun ajaran baru. Pendorong inflasi di antaranya harga minyak goreng yang naik dan momentum tahun ajaran baru sehingga uang sekolah SD, SMP, dan perguruan tinggi turut meningkat, ditambah kenaikan harga sejumlah komoditas seperti tomat, ikan segar, pepaya, rokok kretek, dan sewa rumah.

Lebih dari itu, terjaganya inflasi rendah karena adanya stabilitas nilai tukar rupiah, belum kuatnya permintaan, serta ketersediaan pasokan, sehingga otoritas yakin inflasi pada 2021 dan 2022 akan terjaga dalam kisaran sasaran 2-4 persen. Indonesia membutuhkan inflasi yang terjaga untuk memuluskan jalan bagi pemulihan ekonomi.

Namun kemungkinan akan terdapat risiko kenaikan inflasi pada tahun depan yang perlu diantisipasi sejalan dengan peningkatan permintaan domestik, kenaikan harga komoditas dunia, dan adanya rencana tapering off oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.

The Fed disebut-sebut akan mulai menormalisasi kebijakan moneternya. The Fed berpendapat pengurangan stimulus sebagai bagian dari normalisasi kebijakan moneter sudah dapat dilakukan lantaran ekonomi AS terus membaik, yang diiringi dengan kenaikan inflasi.

Kebijakan yang dikenal sebagai tapering off ini bermula pada 2013, dimana Pemimpin The Fed, Ben Bernanke, menggunakan istilah itu di depan Kongres dan menyampaikan bahwa bank sentral menempuh kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE).  

The Fed kemungkinan akan kembali menerapkan kebijakan tapering off pada akhir tahun ini atau awal tahun depan. Keputusan bank sentral AS ini berpotensi menahan arus masuk (inflow) modal asing ke Tanah Air, sekaligus meningkatkan potensi arus keluar (outflow) modal asing dari Bumi Pertiwi.

Tertahannya arus masuk modal asing akan berdampak pada staibilitas nilai tukar rupiah. Stabilnya kurs rupiah saat ini diyakini sejumlah pihak akibat doping dana asing yang masuk melalui investasi di surat berharga maupun utang, sehingga rentan berfluktuasi jika ‘obat kuat’nya berkurang. Rupiah yang terdepresiasi berpotensi menaikkan inflasi yang didorong oleh kenaikan harga barang-barang impor.

Volatilitas kurs rupiah akan membuat biaya impor naik cukup signifikan dan akan memukul industri manufaktur yang bergantung kepada bahan baku impor. Masih banyak industri yang membeli sebagian besar bahan baku dan barang modalnya dari luar negeri. Kenaikan biaya impor membuat harga jual produk di tingkat konsumen meningkat. Padahal daya beli belum akan kembali ke tingkat sebelum resesi yang diakibatkan pandemi Covid-19.

Tapering off juga akan menimbulkan efek ketidakpastian bagi dunia usaha yang tengah berjuang lepas dari dampak resesi sehingga pemulihan ekonomi Indonesia akan lebih lambat dibandingkan negara lain.

Sektor swasta yang mempunyai utang dalam mata uang dolar AS harus waspada. Mereka perlu memitigasi rencana The Fed tersebut. Korporasi perlu mempersiapkan lindung nilai (hedging) atas utang dalam valuta asing agar terlindung dari fluktuasi kurs yang merugikan.

Otoritas tentu berharap akan tetap ada aliran masuk modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena ketidakpastian pasar keuangan global yang sedikit menurun, sejalan perbaikan prospek ekonomi dunia.

Namun harapan akan tetap adanya dana asing yang masuk harus dibarengi dengan kebijakan yang cukup kuat oleh otoritas di Tanah Air. Harus dipastikan bahwa gejolak yang ditimbulkan oleh tapering off tidak akan lama. Otoritas harus memberikan sinyal kepada masyarakata bahwa mereka tidak akan tinggal diam untuk melakukan intervensi jika pelemahan nilai tukar rupiah terjadi sangat dalam.

Otoritas juga harus sigap mengantisipasi dampak tapering off bank sentral AS terhadap upaya pemulihan ekonomi Tanah Air yang terpukul oleh pandemi Covid-19. Jangan sampai mengkambinghitamkan faktor eksternal saat kedodoran melakukan perbaikan ekonomi.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

2024: Orientasi Pergantian Semata, Celaka!

0 OPINI | 21 September 2021

Naik Turun Rezeki di Era Pandemi

0 OPINI | 16 September 2021

Majelis, Kembalikan Kedaulatan Rakyat!

0 OPINI | 14 September 2021

search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia