The People’s Summit
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka

Ilustrasi Muid Watyutink.com

25 September 2021 10:30

Watyutink.com - The People’s Summit Has Arrived – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milik Rakyat Telah Tiba, demikian slogan yang beredar luas di media sosial, mencanangkan UN Food Systems Summit – KTT Sistem Pangan PBB, yang berlangsung pada 23 September di Kota New York.

Sistem pangan mencakup seluruh pelaku dan aktivitas nilai tambah yang saling terkait dalam produksi, agregasi, pengolahan, distribusi, konsumsi dan pembuangan produk pangan yang berasal dari pertanian, perhutanan atau perikanan.

Tujuan KTT adalah memaparkan kemajuan semua 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui pendekatan sistem pangan. Juga memanfaatkan keterkaitan sistem pangan dengan tantangan global seperti kelaparan, perubahan iklim, kemiskinan dan ketidaksetaraan.

Pangan adalah benang merah yang menghubungkan 17 SDGs, mengingat adanya keterkaitan antara dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan pada sistem pangan.

Menurut fakta dari PBB, kini setiap harinya lebih dari 800 juta penduduk dunia pergi tidur dalam keadaan lapar. Tiga miliar orang tidak mampu membeli makanan yang sehat. Dua miliar kelebihan berat badan, sedangkan 462 juta kekurangan berat badan. Sementara itu hampir sepertiga dari semua makanan yang diproduksi, susut atau terbuang sebagai limbah.

Sistem pangan merupakan penyebab sepertiga dari semua emisi gas rumah kaca pemicu perubahan iklim, serta berkontribusi terhadap 80 persen hilangnya keanekaragaman hayati. Berbagai tantangan terhadap sistem pangan ini diperparah dengan adanya Pandemi COVID-19.

Selama 18 bulan lamanya, secara intensif, penyelenggara menyiapkan KTT melalui proses untuk membawa perubahan atau transformasi positif pada sistem pangan dunia. Ini berlangsung secara global dengan melibatkan Negara-negara anggota PBB dan konstituen di seluruh dunia. Di antaranya, pemuda, produsen makanan, masyarakat adat, peneliti, sektor swasta, sistem PBB, dan lembaga swadaya masyarakat.

Sekelompok ilmuwan dan lembaga swadaya masyarakat berpendapat bahwa agenda yang ditetapkan untuk KTT Sistem Pangan terlalu dipengaruhi oleh sektor swasta, serta menekankan solusi teknologi yang justru akan mengancam petani kecil.

Semua proses menuju KTT mengacu pada lima Action Tracks (Jejak Aksi), yaitu 1) memastikan akses ke makanan yang aman dan bergizi untuk semua, 2) beralih ke pola konsumsi berkelanjutan, 3) meningkatkan produksi yang positif terhadap alam dalam skala besar, 4) meningkatkan mata pencaharian yang adil dan 5) membangun ketahanan untuk kerentanan, guncangan dan tekanan.

Indonesia juga terlibat penuh dalam proses ini, antara lain melalui sejumlah dialog independen yang dilaksanakan oleh berbagai organisasi, maupun dialog nasional dan subnasional yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Sebagai masukan untuk KTT Sistem Pangan, para peserta dialog nasional sepakat bahwa sistem pangan di Indonesia harus mencerminkan konteks sebagai negara kepulauan. Ini kemudian dijajaki lebih lanjut melalui dialog subnasional.

Ada beberapa isu umum yang diangkat oleh para peserta seperti pentingnya literasi pangan, penelitian, inovasi, perbaikan rantai nilai pangan. Juga dukungan kebijakan dan program berbasis data untuk pertanian berkelanjutan, serta peningkatan akses petani terhadap permodalan. Hal penting lainnya termasuk, informasi, teknologi dan ketahanan sistem pangan untuk menghadapi iklim yang berubah.

Dari konsolidasi hasil perbincangan tentang transformasi pangan di 148 negara, dengan lebih dari 100.000 orang yang mendiskusikan dan memperdebatkan solusi, sangat banyak proposal yang masuk. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyimpulkan lima tindakan prioritas: 1) Memberi makan semua orang, 2) Meningkatkan solusi berbasis alam, 3) Memajukan mata pencaharian yang setara, pekerjaan yang layak dan masyarakat yang berdaya, 4) Membangun ketahanan terhadap kerentanan, guncangan dan tekanan, dan 5) Mendukung sarana pelaksanaan.

PBB menyatakan, melalui KTT Sistem Pangan, lebih dari 150 negara berjanji untuk mengubah sistem pangan mereka, serta hampir 300 komitmen sudah dinyatakan oleh masyarakat sipil, petani, pemuda, masyarakat adat, dan negara anggota PBB. Seluruh komitmen ini dapat dilacak melalui sebuah platform berjudul Commitment Registry.
 

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

Bangun Negara, Bangun Peradaban!

0 OPINI | 25 October 2021

Meruntuhkan 'Kekekalan' Korupsi

0 OPINI | 19 October 2021

Menyoal Pembangunan Smelter Freeport

0 OPINI | 14 October 2021

search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia