Vaksin, Sains, dan Kebenaran Dahlan
Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka

Ilustrasi muid/watyutink.com

21 April 2021 16:30

Watyutink.com - Drama Vaksin Nusantara (VaNus) sudah berakhir pada 19 April. Penandatangan Nota Kesepahaman antara KSAD, Menteri Kesehatan, dan Kepala BPOM mengakhiri polemik dan kontroversinya. Tim VaNus dipersilahkan melanjutkan penelitian sel dendritik, namun bukan sebagai vaksin untuk Covid-19. Dan bukan untuk tujuan komersial, tidak memerlukan izin edar dari BPOM. Penelitian juga bukan kelanjutan dari penelitian VaNus. Vaksin Nusantara tamat.

Polemik VaNus memberi pelajaran penting bagi publik tentang bagaimana memahami vaksin, metode sains, dan memilah opini yang valid atau tidak. Memilah pro-kontra tentang “kebenaran”. 

Artikel Dahlan Iskan “Miko Nusantara” (Disway, 19 April) terkait VaNus adalah ringkasan menarik pro-kontra itu. Artikel ini, alih-alih cuma opini, memuat utuh tulisan dua dokter ahli yang kontra dengan VaNus. Berseberangan dengan posisi Dahlan yang selain pro VaNus juga salah satu promotor dan juru kampanyenya.

Dahlan mencoba adil, memuat utuh tulisan dua dokter ahli yang tidak sependapat dengannya. Sebagai wujud “keterbukaan pikiran, ciri intelektual.” Sembari menegaskan ia dan medianya, Disway, adalah pendukung VaNus. Namun, Dahlan tetap menyampaikan opininya pada paragraf terakhir, mengomentari tulisan dua ahli tersebut. 

Menurut Dahlan, BPOM boleh menegakkan ketentuan, tapi bukan berarti eksperimen di luar BPOM harus dilarang. Ia bahkan menyarankan upaya hukum, melapor ke polisi, bagi pihak yang merasa dirugikan. Baginya “kebenaran tidak bisa dimonopoli”. Ia menutup artikelnya dengan ajakan untuk belajar dari kasus DSA, Stemcell, dan Konvalesen. “Banyak kebenaran di luar kebenaran”.

Tulisan Prof. Dr. Ario Djatmiko dan Prof. Dr. Djohansah Marzoeki, cukup gamblang dan tegas menguraikan problematik  wacana VaNus. Mereka mempersoalkan upaya pengembangan VaNus yang lebih bernuansa “heroik” ketimbang menegakkan prinsip ilmiah. Sekalipun menghormati kepakaran dan mengamini kebenaran pandangan dua ahli tersebut, Dahlan tetap merasa ia juga benar. Karena baginya kebenaran banyak ragamnya, dan tidak boleh dimonopoli. 

Kebenaran Dahlan

Opini Dahlan tentang kebenaran tentu sah, kalau saja ia sedang berteori tentang filsafat ilmu sebagai perdebatan epistemologi. Namun ia tidak sedang berfilsafat, tapi sedang mempromosikan produk. Ia ingin meyakinkan publik, bahwa produk yang sedang dirintis Tim VaNus, yang ia dukung sepenuhnya, adalah benar.

Apakah kebenaran yang dimaksud Dahlan? Tidak terlalu jelas, karena ia tidak mengelabolarasi ihwal kebenaran yang ia yakini. Dalam kajian filsafat, kebenaran sedikitnya dapat dipilah menjadi beberapa kategori. Kebenaran bersifat korespondensi, koheren, performatif, konsensus, atau pragmatis. 

Kebenaran korespondensi dilihat dari kesesuaian antara pernyataan dan fakta. Kebenaran koheren dilihat dari konsistensi dan keselarasannya. Kebenaran performatif, selain dinyatakan juga ditunjukkan melalui pembuktian. Kebenaran konsensus, adalah kesepakatan komunitas para ahli dalam bidangnya. Kebenaran pragmatis, menilai kegunaan praktis sebagai solusi konkret mengatasi persoalan.

Berbasis lima kategori kebenaran (filosofis) itu, kebenaran mana yang dirujuk Dahlan? Saya beranggapan, Dahlan merujuk kebenaran konsensus. Tim VaNus yang tentu di dalamnya ada sejumlah ahli, berkonsensus membuat vaksin berbasis sel dendritik adalah benar. 

Kebenaran konsensus ini bersifat sementara, karena masih internal. Konsensus internal ini masih perlu diuji kalangan ahli eksternal, yang bukan tergabung dalam Tim VaNus. Dalam hal ini BPOM dan dokter ahli lainnya bisa berperan untuk memperluas konsensus para ahli (peer review) agar kebenaran lebih mendekati obyektif.

Persoalan muncul ketika BPOM dan banyak ahli lain tidak sepakat dengan TIm VaNus. Belum ada konsensus (eksternal) tentang kebenaran rekayasa sel dendritik sebagai vaksin Covid-19. Masih perlu pembuktian. BPOM, sebagai lembaga yang diberi mandat oleh negara, meminta Tim VaNus mengulang uji klinis tahap pertama. 

Namun, alih-alih melakukan uji klinis ulang, mengikuti prosedur yang lazim (sebagai konsensus), Tim VaNus memilih memobilisasi dukungan opini. Mengajak sejumlah purnawirawan TNI dan politisi untuk berkampanye, memberi testimoni “kebenaran” produk VaNus. Akibatnya VaNus menjadi wilayah polemik kontroversi politik, ketimbang soal sains. Perang opini, ketimbang memberikan bukti. 

Sains dengan metode berbasis bukti (evidence-based), yang bisa diuji dan direplikasi, tidak memerlukan dukungan opini. Apapun opini khalayak tentang temuan atau teori sains, tidak mempengaruhi kebenaran sains. Teori Heliosentris Galileo, Teori Gravitasi Newton, dan Teori Evolusi Darwin tetap benar, sekalipun mungkin mayoritas opini menolaknya. Sains berbeda dengan politik atau kebijakan sosial, yang memang berbasis pada dukungan opini publik.

Sains juga tidak terobsesi dengan “kebenaran”, yang seperti kata Dahlan, memang bisa beragam opini. Kebenaran kerap kental dengan sentimen subyektif. Sains fokus pada validitas dan faktualitas, berupaya mendekati obyektivitas fakta. Dan seringkali justru berlawanan dengan persepsi, asumsi, intuisi, opini, atau keyakinan umum. Contoh gamblang adalah persepsi bumi datar yang sempat diyakini manusia, yang diluruskan oleh fakta sains bahwa bumi bulat.

Sains Vaksin

Dalam hal sains terapan, seperti produk vaksin, upaya pembuktian memerlukan uji klinis yang ketat. Kebenaran vaksin bukan hanya soal  kemanjuran meningkatkan kekebalan tubuh atau kemampuan melawan virus, namun juga soal keamanan. Biologi dan vaksin adalah sains yang rumit dan kompleks (delicate). 

Banyak variabel, faktor kompleksitas biologis yang membuat produk vaksin tidak cuma soal benar atau salah. Kebenaran bukan biner, bukan soal benar atau salah. Namun perkiraan yang bersifat probabilitas, kemungkinan. Sebuah klaim memerlukan pembuktian sehingga menghasilkan konsensus bersama. Pertengkaran informasi versus misinformasi, sebagaimana kampanye politik, tidak diperlukan.

Itu sebabnya, alih-alih mengampanyekan “kebenaran” produk vaksin, lebih perlu mengedepankan kewaspadaan. Meyakini dan mempromosikan kebenaran vaksin, termasuk yang sudah resmi beredar dan dinyatakan aman, bukanlah paradigma berpikir ilmiah. Apalagi vaksin yang masih dalam tahap uji coba, seperti VaNus.

Lebih dari itu, sains bukan cuma soal fakta kebenaran, melainkan soal bagaimana proses mendapatkan dan mengumpulkan fakta yang benar. Ini esensi metode sains. Fakta kebenaran bisa saja direvisi atau diperbarui, atau difalsifikasi, sejauh ada proses dan metode yang terukur dan teruji. Paradigma sains sadalah menyampaikan proses menuju kesimpulan yang benar, bukan cuma memaparkan fakta yang benar.

Saat ini di dunia sedikitnya ada 14 produk vaksin yang sudah dipakai untuk memerangi Covid-19. Sebanyak 30 vaksin baru sedang melewati proses uji klinis fase ketiga; 72 vaksin sedang diuji pada fase pertama dan kedua, dan 5 vaksin dihentikan proses penelitiannya (https://covid19.trackvaccines.org/vaccines/). 

Di Indonesia, pengembangan vaksin terus dilakukan oleh oleh berbagai lembaga riset dan universitas. Sedikitnya ada 7 kandidat vaksin, dinamai sebagai “Vaksin Merah Putih”, yang dikoordinasi Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN). Bagaimana hasil pengembangan kandidat vaksin produk dalam negeri ini? Masih harus ditunggu fakta kebenarannya. 

“Vaksin Nusantara” sebagai slogan “produk vaksin nasional” sudah dihentikan proses pengembangannya. Namun TIm VaNus tetap bisa melanjutkan riset terkait sel dendritik. Satu konsensus nota kesepahaman yang melegakan. Setidaknya berkurang satu soal polemik dan kontroversi yang tidak perlu, saat Indonesia perlu bersatu melawan pandemi.

Fakta sains tidak memerlukan mobilisasi opini, kampanye dukungan, polemik atau kontroversi. Sains tidak berupaya mengklaim kebenaran, atau merasa paling benar. Sains adalah upaya terukur dan teruji untuk mendekati kebenaran. Selalu ada ruang bagi fakta sains untuk dapat disalahkan (difalsifikasi) selain diverifikasi.

Jadi, alih-alih terobsesi pada klaim kebenaran, dan berbingung-bingung dengan “banyak kebenaran”. Sebagai jurnalis dan praktisi media, lebih bermanfaat jika Dahlan Iskan  mengamini dan mempromosikan paradigma sains. Metode manusia untuk mengurangi atau meminimalisasi kesalahan, dalam upaya memahami kebenaran.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia