Peluang di Balik Uji Calon Vaksin COVID-19; Kedaulatan Vaksin, Pemulihan Kesehatan dan Ekonomi
berita
Ekonomika

ilustrasi kan watyutink.com

23 July 2020 17:30

Watyutink.com - Sebanyak 2.400 calon vaksin COVID-19 (virus corona) asal China telah masuk Indonesia. Calon vaksin buatan perusahaan Sinovac Biotech Ltd. direncanakan akan diuji klinis laboratorium milik Indonesia. Uji klinis akan dilakukan selama 6 bulan. Setelah uji klinis, barulah vaksin bisa digunakan. Seberapa besar perhatian dan dukungan yang diberikan pemerintah dalam uji klinis calon vaksin itu?

Tidak hanya Indonesia, calon vaksin itu juga diuji klinis di sejumlah negara. Tujuannya, untuk mengetahui tingkat kekebalan vaksin dalam melawan inveksi akibat COVID-19. Infonya, vaksin telah memasuki uji tahap ketiga. Di dalam negeri, Bio Farma dan Universitas Padjajaran mendapat mandat untuk melakukan uji klinis calon vaksin tersebut.

Pengembangan vaksin secara mandiri dianggap akan menciptakan kedaulatan vaksin COVID-19. Kedaulatan vaksin dianggap menjawab dua krisis yang tengah dan akan menimpa Indonesia, yakni krsisis kesehatan serta krisis ekonomi. Krisis Kesehatan yang ditimbulkan akibat COVID-19, sudah tentu bisa dicegah dengan vaksin yang dikembangkan sendiri. Pencegahan dianggap lebih cepat dan tepat, jikalau vaksin COVID-19 bisa diproduksi secara mandiri.

Di lain sisi, kemandirian dalam produksi vaksin berdampak baik bagi perekonomian nasional. Vaksin yang diproduksi mandiri dianggap pakar lebih cepat, tepat dan murah dibandingkan harus impor dari luar negeri. Vaksin produksi dalam negeri, bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan vaksin nasional. Melihat kebutuhan dunia akan vaksin COVID-19, ada yang berpendapat sangat besar kemungkinan Indonesia mengekspor vaksin COVID-19 ke luar negeri. Apakah ekspor vaksin ke luar negeri mampu membantu penguatan perekonomian nasional yang tengah melemah?

Dampak positif uji klinis calon vaksin COVID-19 telah terlihat, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan tengah minggu ketiga Juli 2020. Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim menginformasikan penguatan rupiah pertengahan minggu ini merupakan dampak dari pengembangan vaksin COVID-19 yang dilakukan di Indonesia. Apakah dampak positif ini akan menular ke sektor keuangan lainnya?

Semoga kedaulatan vaksin membawa dampak baik bagi pulihnya krisis kesehatan yang melanda Indonesia, dan menghindarkan Indonesia dari resesi ekonomi yang mengancam. 

Apa Pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON

OPINI PENALAR
Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

Pertama kita harus pahami, COVID-19 ini spesial. Dikarenakan tingkat penularannya yang sangat tinggi, dari human to human transfer (menular dari manusia ke manusia). Ini merupakan hal yang pertama kali terjadi dalam sejarah. Biasanya kan kalau, virus ebola dari monyet dan malaria dari nyamuk, virus COVID-19 ini dari manusia ke manusia.

Kedua, indikasinya COVID-19 menular dari droplet ke udara, dari tetesan menjadi semacam udara. Oleh karena itu, sekarang ini penekanan atau instruksi untuk masyarakat menggunakan masker tinggi. Selanjutnya ketiga, yang saya pahami setidaknya ada tiga strain atau tiga jenis dari COVID-19 itu. Ada jenis dari China yang berbeda dengan jenis Amerika, juga berbeda dengan jenis di Eropa. Mungkin kalau kita lihat lagi perkembangannya sekarang ini, strain-nya sudah bertambah menjadi enam, dikarenakan COVID-19 ini mutasinya termasuk yang cepat. 

Dengan ketiga pertimbangan ini, saya justru mendukung strategi pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19. Sejak awal saya sudah mengatakan, kalau menghadapi COVID-19 ini, tidak boleh ada oposisi dan koalisi, yang paling penting bagaimana vaksin anti virusnya ditemukan dulu, kalau tidak repot semua. Mau koalisi ataupun oposisi, bisa mati kena COVID-19. 

Nah terkait dengan vaksin antivirus ini, yang saya tahu pemerintah memiliki tiga strategi. Satu tentu membangun kemandirian, dengan memberikan dukungan kepada para ahli dan pakar dalam negeri, yang dipimpin oleh Lembaga Eijkman. Universitas Airlangga, Universitas Padjajaran, juga UI semua terlibat dalam konsorsium. Ini sudah mulai jalan, dan menurut saya ini merupakan Langkah yang paling bagus, karena strain yang digunakan strain Indonesia. Artinya menggunakan virus Indonesia, bukan virus dari China, Amerika atau Eropa. Nah kita juga belum tahu nih, bisa jadi jenis virus di Indonesia beda. Negara kita ini kan iklimnya tropis dengan tingkat kelembapan yang tinggi.

Selanjutnya kedua, pemerintah juga membangun kerjasama dengan Inggris dan Eropa. Kalau tidak salah di dalam satu lembaga yang disebut Center for EpidemicPreparedness Innovations (CEPI). Itu merupakan suatu lembaga yang konsorsiumnya terbuka, ada dari seluruh dunia bertujuan untuk menemukan anti virus COVID-19. Di dalamnya ada juga Norwegia, Inggris, dan Harvard University yang ikut bekerjasama.

Strategi yang ketiga, uji klinis yang dilakukan dengan perusahan asal China Sinovac Biotech Ltd.  Tidak bisa dipungkiri China  merupakan negara yang paling terdepan melakukan uji coba antivirus COVID-19. Yang saya ketahui, dari 17 calon vaksin yang diuji coba atau uji klinis, 10 di antaranya dari China, Itu sudah diuji coba tahap tiga. Khan ada tiga tahapan uji coba: tahap satu (1), diuji coba ke hewan; tahap dua (2), dengan jumlah terbatas dalam kurun waktu tiga bulan; dan tahap ketiga (3) dengan jumlah yang lebih besar dalam kurun waktu enam bulan. Oleh karena itu, kita menerima kerjasama uji klinis pengembangan calon vaksin antivirus COVID-19.

Dalam pertemuan dengan Ibu Menteri Luar Negeri, saya mewakili bagian Kerjasama Antara Lembaga, menurut keterangan dari Ibu Menteri China terbuka untuk kerjasama dan pengembangan antivirus COVID-19. Berbeda dengan Amerika Serikat yang tertutup. Kita sudah  mau mendapatkan remdesivir, perusahan yang memproduksi sudah siap, tetapi oleh Trump ditutup. Remdesivir inikan yang buat MERS, tapi dia juga berfungsi untuk meningkatkan imunitas. 

Jadi dengan tiga strategi ini, saya kira sudah tepat. Saya setuju, kita tidak boleh hanya bergantung pada Lembaga Eijkman. Karena ketiga strategi kerjasama itu saja belum tentu berhasil, bisa gagal tiga-tiganya. Namun bisa juga ada yang berhasil salah satu, atau ketiga-tiganya berhasil atau sukses. Lebih baik tiga ketimbang satu. 

Lebih lagi, setelah saya cek dan mendapatkan informasi lisan dari Ibu Menteri, kerjasama dengan China maupun Sinovac Biotech Ltd, Ibu Menlu kita sudah lihat term of condition yang baik, yang tidak akan membuat kita didikte. Ini karena semuanya kalau sudah dapat, baik dengan CEPI, dengan Sinovac Biotech Ltd, apalagi dengan lembaga Eiijkman, semua vaksin antivirus COVID-19 itu akan diproduksi oleh Bio Farma. 

Bio Farma itu punya kemampuan produksi 250 juta per setahun. Itu kalau full capacity ya, tapi kalau full capacity obat-obatan yang lain kan harus diproduksi juga oleh Bio Farma. Nah mungkin 80 persen dari total kapasitas. Selanjutnya, mungkin akan dilist pabrik obat lain, yang bisa disertifikasi atau standardisasi untuk menghasilkan antivirus ini.
 
Jikalau kemudian ada kekuatiran, saya rasa masih dalam batas kewajaran, dan hampir sama sebetulnya. Sebagian masyarakat menolak rapid test, karena dikuatirkan justru itu menginjeksi virus corona ke kita. Bahkan di beberapa daerah,  masyarakat pada lari kalau mau rapid test. Padahal tidak seperti itu, kan alat-alat rapid test masih disegel sebelum digunakan, dan tidak ada proses memasukan apa pun ke dalam tubuh. Hanya diambil darahnya sedikit saja, untuk ditaruh ke media yang digunakan melakukan pengecekan. 

Ada juga nuansa bahwa antivirus dari China ini adalah senjata biologis, ya kita tidak senaif itu. Kita sudah terlibat dengan sinovac bukan tahap tiga(3) ini saja, di tahap dua (2) kita sudah terlibat. Jadi ada tim dari kita yang memverivikasi bahwa itu adalah antivrus yang aman. Tentu jangan juga kita lengah ya, siapa penemu virus, bisa jadi dia akan menguasai dunia, kita harus tetap waspada karena itu. 

Selain itu saya dapat informasi dari Ibu Menteri Luar Negari (saya rujukannya ketemu Ibu Menteri), Beliau mengatakan, kami  di Kementerian Luar Negeri punya gugus tugas khusus. Yaitu, satu yang menyerahkan bantuan untuk seluruh warga Indonesia di luar negeri. Saya pernah webinar dengan mahasiswa pelajar Indonesia di Sudan dan Dubes Indonesia di sana, tim khusus sembako telah melakukan tugas dengan bagus sekali. 

Nah. dikarenakan di luar negeri tidak ada keluarga, keluarganya ya Kedubes atau Komjen Republik Indonesia, dan itu dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri, makanya buat saya bagus sekali. Kedua, itu bagian tugas khusus untuk antivirus. Di dalam masa pandemi ini, Kemeneterian Luar Negeri, menurut saya di antara kementerian yang bertranformasi secara baik untuk memenangkan pertarungan melawan COVID-19.

Jadi saya ingin garus bawahi, untuk melawan COVID-19, tidak ada koalisi atau tidak ada oposisi, semuanya harus bersatu, dengan saintifik, data bukti, serta akal sehat.
 

Menteri BUMN dan Ketua Pelaksana Tim Penanganan Pandemi Virus Corona dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)

Saya optimis pasca ditemukannya vaksin, ekonomi akan segera pulih dalam beberapa bulan ke depan. Bahkan tidak lama lagi diprediksi akan kembali normal. Segera dimulainya uji klinis tahap tiga terhadap 2.400 calon vaksin antivirus COVID-19 akan menambah percepatan pemulihan ekonomi. Ekonomi harus mulai bergerak, dan kita harus yakin dalam beberapa bulan ke depan, maksimal 50 persen perekonomian kita akan kembali.

Sebelum apa yang kita harapkan, yakni ditemukannya vaksin, kita harus tetap beraktivitas mengikuti protokol Kesehatan. Pilihan untuk tidak melakukan lockdown sudah tepat, ini berdampak pada masih bertumbuhnya perekonomian Indonesia sekitar 2,9 persen. Berbeda jauh dengan negara lain pada periode yang sama, ekonominya anjlok sampai 17 persen.

Kebijakan new normal dan penerapan protokol Kesehatan, kami harapkan akan mampu semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Saat ini, memang banyak BUMN dan perusahan lain yang terdampak COVID-19, namun kita harus tetap optimis dalam perjalanannya dan dilakukannya uji klinis tahap tiga (3) calon vaksin antivirus COVID-19 akan  membawa dampak positif pada pertumbuhan ekonomi.

Setelah dilakukan uji klinis tahap tiga (3), tahun 2021 BUMN produsen obat-obatan, dalam hal ini Bio Farma, siap melakukan produksi vaksin sebanyak 100 juta dosis. Diharapkan sampai tahun 2021 saat di mana vaksin bisa diedarkan, masyarakat tetap melaksanakan protokol kesehatan dalam era new normal ini.

search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia