Indonesia Negara Berpendapatan Menengah Atas: Angka Kemiskinan Melonjak
berita
Pikiran Bebas

Ilustrasi kan watyutink.com

04 July 2020 14:25

Indonesia kini masuk negara berpendapatan menengah atas (upper middle income), dengan pendapatan per kapita (berdasarkan Gross National Income = GNI) tahun 2019 sebesar 4.050 dolar AS. Banyak yang bangga dengan status baru ini, dan ada juga yang kaget.

Apa artinya negara berpendapatan menengah atas? Apakah rakyat Indonesia serta merta menjadi lebih sejahtera? Yang pasti, banyak penduduk Indonesia akan menjadi lebih miskin pada tahun 2020 ini, akibat Covid-19 dan akibat kebijakan fiskal salah arah dan kurang berpihak pada rakyat bawah.

Ukuran pendapatan negara dibagi dalam tiga kelompok: negara berpendapatan rendah, negara berpendapatan menengah dan negara berpendapatan tinggi. Negara berpendapatan rendah mempunyai pendapatan per kapita sampai dengan 955 dolar AS.

Negara berpendapatan menengah dibagi menjadi dua sub kelompok. Yaitu negara berpendapatan menengah bawah dengan pendapatan per kapita antara 996 dolar AS sampai 3.895 dolar AS. Dan negara berpendapatan menengah atas dengan pendapatan per kapita antara 3.896 dolar AS sampai 12.055 dolar AS. Sedangkan negara berpendapatan tinggi mempunyai pendapatan per kapita lebih besar dari 12.055 dolar AS.

Pendapatan per kapita Indonesia pada 2019 tercatat 4.050 dolar AS, sehingga masuk neraga berpendapatan menengah atas. Tetapi, pertumbuhan pendapatan per kapita beberapa tahun belakangan ini sangat lambat. Padahal pendapatan per kapita pada 2013 sudah mencapai 3.730 dolar AS. Tetapi, kemudian turun menjadi 3.400 dolar AS pada 2016.

Hal ini membuat pendapatan per kapita untuk periode 2014-2019 hanya naik rata-rata 2,3 persen per tahun. Sedangkan pertumbuhan pendapatan per kapita untuk periode 2004-2014 naik cukup pesat, rata-rata 12,9 persen per tahun.

Meskipun agak terlambat, Indonesia kini menjadi negara berpendapatan menengah atas. Ironisnya, status baru tersebut lebih banyak sisi buruknya daripada membanggakan untuk Indonesia. Angka kemiskinan akan melonjak tajam. Karena setiap kelompok pendapatan mempunyai garis kemiskinan berbeda-beda.

Garis kemiskinan untuk negara berpendapatan rendah adalah pendapatan di bawah 1,9 dolar AS (2011 PPP) per kapita per hari, untuk negara berpendapatan menengah di bawah 3,2 dolar AS (2011 PPP) per kapita per hari, untuk negara berpendapatan menengah atas di bawah 5,5 dolar AS (2011 PPP) per kapita per hari. Dan untuk negara berpendapatan tinggi di bawah 21,7 dolar AS (2011 PPP) per kapita per hari.

Karena tingkat kemiskinan adalah dinamis. Tidak statis. Artinya, semakin besar pendapatan rata-rata penduduk sebuah negara maka garis kemiskinan juga semakin besar. Pendapatan Rp 280.000 per hari (atau Rp 8.400.000 per bulan atau setara 600 dolar AS) per orang di Indonesia secara umum dapat dikatakan cukup besar.

Tetapi, pendapatan yang sama, yaitu 600 dolar AS per bulan per orang, di negara maju (kaya) di Eropa termasuk rendah, dan termasuk penduduk miskin. Untuk bayar sewa rumah saja tidak cukup.

Indonesia dengan status negara berpendapatan menengah atas mempunyai garis kemiskinan 5,5 dolar AS (2011 PPP) per kapita per hari. Berdasarkan garis kemiskinan ini, menurut Bank Dunia, jumlah penduduk miskin Indonesia melonjak menjadi 150 juta orang pada 2018. Atau 56 persen dari total populasi 267,7 juta orang.

Angka kemiskinan ini jauh lebih besar dari negara-negara lain yang berada di kelompok yang sama seperti Malaysia, Thailand, Turki, Meksiko atau Argentina.

Jumlah penduduk miskin Malaysia hanya 2,7 persen saja pada 2015. Sekarang mungkin 0 persen. Jumlah penduduk miskin Thailand hanya 8,6 persen atau 6 juta orang, Turki 9,2 persen atau 7,5 juta orang, Meksiko 23 persen atau 29 juta orang dan Argentina 9,6 persen atau 3,9 juta orang.

Ini adalah realita gambaran kemiskinan Indonesia dengan menyandang status baru sebagai negara berpendapatan menengah atas. Oleh karena itu, jangan berbangga dulu. Pemerintah harus bekerja lebih keras untuk menurunkan angka kemiskinan ini. Apakah sanggup? Yang pasti, angka kemiskinan tahun ini akan meningkat cukup tajam.

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON

OPINI PENALAR
search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia