Putin Beriman vs Neofasisme Kiri Trump
berita
Pikiran Bebas

Monument 4 Presiden AS di Mount Rushmore

05 July 2020 14:40

1927 -1941 pembangunan Monument 4 Presiden AS di Mount Rushmore, George Washington (1), Thomas Jefferson (3), Abraham Lincoln (16)dan Theodore Rossevelt (26).

2020 The Squad Empat Sekawan Congresswomen AS kubu Neofasisme Kiri Baru Black Lives Matters melawan “white supremacist” keterbelahan AS menjelang pilpres 3 November 2020.

Sarasehan Imajiner 4 Presiden RI tentang tranformasi geopolitik.

Sabtu, 4 Juli 2020, Bung Karno (BK) kembali mengundang sarasehan Indonesian Presidents Club di Sky Restaurant lantai 56 Menara BCA

Gus Dur ambil alih mikrofon: Selamat kepada Bung Karno yang mendirikan Partai Nasional Indonesia PNI pada 4 Juli 1927 dan sekarang menjadi PDIP. Selamat juga ulang tahun ke 38 Grace Natalie Ketua Umum PSI. Hari lahirnya Amerika Serikat ke-244.  

Kalau kita mengikuti sejarah kontemporer, maka 4 Juli 2020 ini akan unik sekali. Sebab dari Moskow diberitakan Vladimir Putin memenangkan referendum konstitusi baru Rusia. Memang salah satu yang pragmatis adalah peluang masa jabatan baru untuk Vladimir Putih sampai 2036. Tanpa amandemen, dia hanya bisa berkuasa sampati 2024. Tapi amandemen lain yang unik adalah bahwa Rusia adalah negara yang beriman kepada Tuhan, karena itu LGBT dilarang. Selain itu, ditegaskan  supremasi hukum Rusia. Artinya, Rusia tidak akan tunduk kepada hukum inernasional, ketika terjadi konflik yang berlaku adalah hukum Rusia.

Di Mount Rushmore, monumen bukit berwajah 4 President AS, Presiden Trump berpidato tentang bahaya Amerika Serikat akan dikuasai oleh rezim Fasisme Kiri Baru yang meninjak hak asasi manusia dan individu kreatif oleh ideologi neo Marxis Komunis, yang di Rusia justru baru dinihilkan lagi dengan pengakuan Iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa oleh Konstitusi baru Rusia. Interesting sekali kalau Bapak bisa membedah metamorfosis dua raksasa itu dan juga konflik di masyarakat kita seputar RUU HIP.

BK: Terima kasih Gus, langsung Anda singgung soal PNI dan fakta anomali ideologi yang berlangsung di Moskow dan Washington, juga Beijing serta Jakarta. Presiden Macron baru saja mengganti PM Philippe yang rela turun pangkat terpilih jadi Wali Kota Le Havre. Itali sedang dalam proses mengikuti jejak Brexit Inggris dengan Quitaly, meninggalkan UE.

Semenatara Indonesia diberi hokgie, bisa naik kelas dari negara berpendapatan menengah bawah ke menengah atas. Sehingga kans untuk tidak terperangkap dalam the Middle Income Trap semakin cerah dan 2045 pada usia seabad, Indonesia akan jadi negara berpendapatan tinggi sekitar 15.000 dolar AS per kapita dari sekarang 4.050 dolar AS. Semua ini harus disyukuri dan direspon dengan assertif, optimis dan semangat kesembuhan dari pandemi dan normal kembalinya ekonomi kita. Di luar dugaan orang, laporan ekonomi Juni 2020 untuk AS di bawah Trump membaik dengan  angka pertumbuhan dan employment yang tidak seburuk kritik oposisi. Sekarang ini AS memang sedang menghadapi “the 2nd civil war” yang merupakan residu “perang saudara pro dan anti perbudakan” 1861-1865.

Jalan terbaik ya harus ke tengah, tidak bisa mau ekstrem dari “white supremacist” menjadi “black ueber alles” melalui Black Lives Matters.

Jadi saya ini memang agak “vervelijn” (serba salah) juga. Kenapa sampai kader PDIP “tersandung kerikil “ RUU HIP. Tapi saya kan sudah bilang dalam diskusi kita terakhir, bahwa saya mencium bau konspirasi seperti dulu waktu lawan politik saya meluncurkan BPS Badan Pendukung Sukarnoisme, untuk justru memusuhi saya. Jadi kalau sekarang para penentang RUU HIP ini memakai metode BPS kita sudah paham.

Tapi hari ini saya lihat Ketua MPR Bambang Soesatyo dan Wakil Ketua MPR dari PDIP dan PAN menemui Ketua PBNU menyepakati jalan tengah RUU diganti total dengan sekadar UU teknis tentang BPIP. Maka kita sekarang bisa konsentrasi mensyukuri naik kelas upper middle income dan mengoptimalkan kinerja bangsa kita. Agar benar benar dalam tempo 25 tahun, ada satu generasi lagi kita akan betul betul berpendapatan tinggi. Jenderal Harto kenapa ada isu bahwa Cendana berada di balik gelombang tsunami politik mendiskreditkan PDIP dan keluarga Sukarno.

Soeharto: Wah saya ini gaptek urusan medsos sebab sudah terbiasa pakai metode petrus menghadapi gangguan kriminal yang keji dan sadis. Tapi itu kan dulu, waktu Benny Moerdani jadi Pangab/Pangkopkamtib. Saya dari atas sini selalu berdoa anak cucu saya tidak perlu jadi politisi dan masuk DPR Senayan.

Tapi kalau soal bisnis, memang anak anak saya lebih berbakat bisnis daripada politik. Putra putri saya bervariasi hobby dan interest-nya. Dan biasa juga ada beda pendapat antara kakak adik sama seperti anak anak Bapak kan juga bisa berbeda politik. Saya pragmatis saja, kalau Bank Dunia sudah kasih rapor yang bagus ya kita syukuri, lalu kita ikhtiar dan bekerja keras, cerdas, fokus agar kita bisa menguangkan sumber daya alam kita secara optimal. Yang penting memang bagaimana kita bisa membangun industri yang berdaya saing global. Selamat kepada almamater bapak, ITB yang baru saja merayakan usia seabad.

Habibie: Kita memang harus menempatkan diri secara proporsional dalam perjalanan sejarah lintas abad dan lintas negara bangsa. Saya baru sadar bahwa trayektori behaviour manusia itu betul betul unpredictable. Kalau kita lihat bagaimana Putin memproklamirkan Rusia sebagai Negara beriman kepada Tuhan sambil memperoleh perpanjangan masa jabatan presiden sampai 2036 usianya sudah akan 83 waktu itu. Sementara Presiden AS Trump malah ketakutan dikalahkan dalam pemilu oleh rezim ideologi fasisme kiri baru.

Mengherankan AS bisa mengalami keterbelakahan ideologi yang begitu tajam ketika Tiongkok justru sedang mengubah kapitalisme negara (aparatur Partai Komunis) berkinerja optimal bahkan mengalahkan kapitalisme Wall Street yang kalah digempur divisi Huawei dan produk industri Tiongkok.  Nah, kalau kita masih tetap menghasilkan lulusan sosial non teknis ketimbang insinyur pencipta, maka sulit mencapai trayektori yang diramalkan Bank Dunia untuk kita. Harus ada perubahan mental elite kita dan generasi milenial serta kelas menengahnya untuk “hijrah” dari ilmu sosbud non tehnis menjadi “inventors

BK: Tugas sejarah generasi yang lahir tahun 2000 dan 2020 ini adalah dalam satu generasi mencapai lompatan transfomatif ke arah industri 5.0 dengan sistim politik yang sudah efektif untuk mengoreksi dan meniup alarm dini agar pengelolaan negara tidak dilakukan secara “one man show” yang tidak cerdas.

Bagaimana kita melaksanakan kebijakan percaturan diplomasi geopolitik abad XXI dengan Rusia berIman vs Amerika fasisme kiri baru. Kalau kita tidak lihai meredefinisikan posisi Pancasila kita. Maka kita akan bingung, lho ini kok sudah tidak ada bedanya antra Nazisme Hitler, Komunisme Putin, Kilafah Khamenei, Potus Trump atau ideologi 4 wanita non white di Congress AS, kamerad Alexandria Ocaso Cortez, Ilhan Omar, Ayana Pressley dan  Rashida Tlaib. Saya lihat kalau melobby di AS asyik juga dengan cewek cakep cerdas seperti  AOC dkk.

Saya jadi bersemangat untuk muda lagi jadi diplomat di Washington melobby kongres AS. Kita tetap bersyukur dengan kondisi kita semoga Agustus 2020 kita bisa merayakan 75 tahun RI dalam suasana Normal Baru Pasca Covid yang lebih beriman, percaya diri dan melewati masa panik dan paranoid.

Kita harus bisa melaksanakan Pancasila ditengah kebingungan Moskow Washington Beijing. Semoga AS selamat dari keterbelahan dan ikut jalan tengah Pancasila kita koalisi Jokowi-Prabowo. Kalau Trump bisa akur sama Nancy Pelosi dan Alexandria Cortez, amanlah AS. Kalau tidak ya akan ditinggal oleh Putin dan Xi Jinping yang solid di bawah ideologi kapitalisme negara yang beriman sedang AS malah terancam oleh Neo fasisme Kiri Baru.

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON

OPINI PENALAR
search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia