Makna Perubahan Konsep Ketuhanan Dalam UU HIP
berita
Pikiran Bebas

Ilustrasi kan watyutink.com

05 July 2020 10:45

Jika dipelajari keseluruhan konstruksi rancangan undang undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) maka tampak yang menjadi target utama perubahan adalah perubahan Sila Ketuhanan yang Maha Esa, di samping perubahan yang lainnya.

Perubahan kata dari Ketuhanan Yang Maha Esa kepada Ketuhanan yang berkebudayaan, ini bukan hanya sekadar perubahan kata-kata dalam Undang-undang atau perubahan semantik semata, tapi perubahan ini adalah perubahan fundamental yang mempunyai implikasi sistemik bagi kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama di Indonesia.

Untuk memahami persoalan ini, kita awali dengan memahami arti kata kebudayaan. 

Kebudayaan menurut Ki Hajar Dewantara adalah buah budi daya manusia sebagai hasil perjuangan terhadap dua pengaruh kuat yakni alam dan zaman. 

Menurut Prof. Dr. Kuntjoroningrat kebudayaan adalah  keseluruhan sistem gagasan, tindakan, perbuatan dan hasil karya manusia yang digunakan untuk menjalani kehidupan. 

Dengan demikian Ketuhanan yang berkebudayaan adalah konsep Ketuhanan yang lahir sebagai hasil buah budi daya atau lahir dari sistem gagasan, tindakan, perbuatan dan karya manusia yang dijadikan pedoman dalam menjalani hidup dan kehidupan manusia.

Berbeda dengan konsep Ketuhanan yang maha esa. ESA artinya tunggal, tidak berbilang, tidak bisa dipecah, tidak bisa dijumlah, tidak memiliki turunan, tidak ada urutan dan deretan dengan kata lain ESA berarti non numeralia.

Kata ESA berbeda dengan kata Eka, Eka berarti satu, Eka adalah bilangan angka, bisa dipecah, bisa dijumlah, memiliki urutan, turunan, deretan dan bersifat numeralia. Urutan dari kata Eka, adalah dwi, tri, catur, panca dan seterusnya. 

Ketuhanan Yang Maha Esa artinya konsep tuhan yang maha tunggal, Tuhan yang tidak berbilang, tidak memiliki pecahan, tidak bisa dijumlah, tidak memiliki urutan, deretan serta turunan. ESA dalam bahasa arab disebut ahad. Tuhan yang Ahad, adalah Tuhan yang esa, tunggal, tidak berawal dan tidak berakhir.

Sila Ketuhanan yang Maha Esa adalah sila yang paling substansial dari semua sila-sila dalam Pancasila, Sila Ketuhanan yang Maha Esa adalah sila yang  mempengaruhi keempat sila yang lain. Ketuhanan yang Maha Esa sebagai  wujud relasi hablumminallah sedangkan empat sila yang lain sebagai wujud relasi hablumminnas. 

Dalam Pancasila sudah komplit antara relasi KETUHANAN dan relasi KEMANUSIAAN, Hablumminallah dan Hablumminannas.

Ketuhanan yang Maha Esa adalah akar tunjang dari semua ajaran agama samawi. Mencabut makna Ketuhanan yang Maha Esa dari agama berarti  mencabut ruh agama itu sendiri. Pertanyaannya apa perlunya melakukan hal itu..? 

Hal Itu dilakukan karena agama adalah musuh terbesar Pancasila, oleh sebab itu agama harus dicabut akar tunjangnya agar agama kehilangan ruh sehinggga agama mudah dilumpuhkan, kalau perlu ruh agama dimatikan dengan begitu Pancasila tidak lagi memiliki musuh terbesar.

Pandangan yang mengatakan agama sebagai musuh terbesar Pancasila adalah pandangan yang  keliru berat, ajaran Agama yang berakar pada Ketuhanan yang Maha Esa, dia bukan saja alas dasar  Pancasila tapi sekaligus sebagai pagar pancasila dari ancaman komunisme, marxisme dan leninisme.

Karenanya ketiga ajaran ini terlarang di Indonesia, oleh karena negara Indonesia berdasarkan pada KETUHANAN yang Maha Esa. 

Mengganti Ketuhanan yang Maha Esa menjadi Ketuhanan yang Berkebudayaan itu  berarti mengganti paradigma agama dalam Pancasila. Ketuhanan yang Maha Esa adalah konsep Ketuhanan dalam  Paradigma agama samawi, sementara Ketuhanan yang Berkebudayaan adalah konsep Ketuhanan dalam Paradigma agama ardhi.  

Agama samawi adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT. melalui malaikat Jibril yang disampaikan kepada Nabi, Rasul yang diutus oleh Allah SWT untuk disebarkan kepada umat manusia, seperti agama Nasrani,  Yahudi dan Islam. 

Sedangkan agama Ardhi adalah agama yang berkembang berdasarkan budaya, daerah, konsep, pemikiran seseorang yang kemudian diterima secara global serta tidak memiliki kitab suci yang berdasarkan Mengganti dan menggeser Ketuhanan yang Maha Esa menjadi Ketuhanan yang Berkebudayaan. 

Bukan saja Men-downgade makna Ketuhanan yg maha esa, atau menistakan pancasila, atau melumpuhkan pancasila.
melainkan penggantian itu mengganti relasi Hablumminallah dan sekaligus Hablumminannas hanya menjadi hubungan Hablumminannas semata. 

Penggantian itu juga bermakna mencabut ruh ilahiyah dari dalam tubuh Pancasila.

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON

OPINI PENALAR
search
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia